Jumat, 05 November 2010


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
SEJARAH Jam automatis pertama kali diciptaan Abraham Perrelet 1780. Jam kantung pertama kali diciptakan oleh Peter Henlein di Jerman tahun 1524. Begitu banyak kekurangan dari jam kantung pertama ini, baik dari sisi berat dan pengoperasiannya yang rumit membuatnya menjadi tidaklah praktis digunakan sebagai jam kantung. Mesin yang digunakan masih terbuat dari besi biasa, yang dikemudian hari mengalami kemajuan menggunakan kuningan. Selain itu pada jam kantung pertama ini belum terdapat balance spring dan sangat tidak akurat. Jam ini hanya memiliki satu jarum yaitu jam dan harus diputar dua kali dalam sehari, tetapi 

disamping semua kekurangan itu, hal ini merupakan  
sebuah inovasi dan kemajuan yang sangat pesat pada jamannya.Dikemudian hari penemuan besar di jaman itu adalah per spiral yang bentuknya melingkar seperti obat  nyamuk bakar yang memungkinkan penyimpanan energi yang lebih lama untuk menggerakkan jam, yang juga memungkinkan penurunan secara drastis berat dari jam. Bentuk jam menjadi populer pada tahun 1600-an dengan ada bentuk-bentuk binatang atau objek lain, tetapi tema keagamaan menjadi hal yang populer. Walaupun mengalami beberapa kemajuan, tetapi jam masih lebih dianggap sebagai perhiasaan pada masa itu.
Tahun 1704 batu rubi untuk pertama kali digunakan dalam mesin jam dalam upaya untuk meningkatkan ketepatan waktunya. Tahun 1780 enamel (lapisan cat/porselen) digunakan pada plat permukaan tampilan jamz(dial) sehingga membuatnya lebih mudah telihat pada kondisi minim cahaya. Pada tahun 1780 mesin automatis (energi pada per terisi secara otomatis tanpa harus diputar secara manual)diciptakan oleh Abraham Perrelet (merk Perrelet hingga sekarang masih ada) tapi oleh Thomas Prest dipatenkan di tahun 1820. Pada tahun 1809 di Amerika, produsen jam pertama adalah Luther Goddard of Shrewsbury di Massachussetts. Tahun 1848 Louis Brand membuka tempak kerja jam pertamanya di La Chaux de Fonds yang dikemudian hari kita kenal sebagai merk Omega. Tetapi perusahaan-perusahaan jam di Amerika lah yang melakukan produksi secara massal ditahun 1850 seperti Walthan, Elgin dan Hamilton (semua merk ini hingga sekarang masih ada) Tahun 1900-an kemajuan pesat dalam ilmu per-logam-an berpengaruh terhadap mutu dari balance spring (per rambut) yang merupakan bagian yang sensitif terhadap perubahan temperatur dan posisi yang sangat berpengaruh terhadap ketepatan jam. Tahun 1905 awal mula Rolex oleh Hans Wilsdorf. Tahun 1914 dibuat untuk pertama kali jam tangan dengan alarm
Tahun 1924 Seiko berdiri di Tokyo

Kamis, 04 November 2010

0 PARADIGMA MANAJEMEN DAN ORGANISASI


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Manajemen berasal dari bahasa Inggris: management dengan kata kerja to manage yang secara umum berarti mengurusi. Dalam arti khusus manajemen dipakai bagi pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin. Manajemen  kemudian diartikan sebagai suatu rentetan langkah yang terpadu untuk mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomi-teknis. Definisi lebih rinci disampaikan Stonner dalam Management (1978),  yaitu sebagai  proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber-sumber organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Prinsip-prinsip etika dalam organisasi

Masalah etika selalu muncul dalam situasi yangmelibatkan orang lain, tetapi seringkali organisasi lebih banyak menyoroti masalh etika ini daripada pihak – pihak lainnya. Pelanggaran terhadap etika yang telah diterima secara umum merupakan masalah yang harus diwaspadai dalam organisasi. Bagi sebagian orang perilaku etis dalam organisasi tidak selalu penting.
Charles Saxon, kartunis majalah The New Yorker, menerbitkan serial kartun bisnis berjudul “ kejujuran adalah salah satu kebijakan yang lebih baik”, Tampaknya Saxon berpendapat bahwa dikusi etika dalam organisasi bisnis diperlukan, dan mungkin bermanfaat bagi kita untuk mempelajari beberapa masalah etika dalam konteks pembuatan keputusan mengenai pekerjaan dalam organisasi.
Bidang karier apapun yang anda putuskan untuk anda tekuni, pasti mencakup sejumlah dilemma dan paradoks mengenai etika kehidupan yang sesunguhnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan etika ? Sekelompok teoritis (Solomon & Hanson, 1985) mengemukan bahwa etika berkaitan dengan pemikiran dan cara bersikap, pemikiran mengenai etika terdiri dari evaluasi masalah dan keputusan dalam arti bagaimana kedua hal ini memberi andil pada kemungkinan penigkatan seseorang seraya menghindari akibat yang merugikan orang lain dan diri sendiri.
Perilaku etis berhubungan dengan tindakan yang sesuai dengan keputusan yang relevan, yang sejalan dengan seperangkat pedoman yang menyangkut perolehan yang mungkin dan akibat yang merugikan orang lain.
Masalah etika dalam organisasi dapat dibagi dalam dua kategori :
1. yang menyangkut praktik – praktik organisasi di tempat kerja, dan
2. yang menyangkut keputusan perorangan
Praktik – praktik Organisasi
1. Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang paling akhir.
2. Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian, pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan, pemberhinetian dan masalah pension anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi yang prospektif disetiap jenjang karirnya.
3. Keleluasaan (privacy) dan pengaruh terhadap keputusan pribadi. Perjanjian eksplisit dan implicit antara pegawai dengan organisasi yang memperkerjakan mereka, memberi peluang kepada organisasi untuk memperhatikan faktor – faktor yang secara jelas mempengaruhi prestasi kerja pegawai. Namun masalah etika muncul bila organisasi menaruh perhatian khusus pada masalah kehidupan pribadi anggotanya yang tidak secara langsung mempengaruhi prestasi kerja mereka dalam organisasi, misalnya segala sesuatu yang terjadi selama cuti yang mungkin mempengaruhi citra organisasi, keikutsertaan dalam masalah – masalah public seperti kegiatan masyarakat dan organisasi pelayanan, kontribusi pada badan – badan amal, dan keterlibatan dalam kelompok kegiatan politik.
Etika merupakan cara bergaul atau berperilaku yang baik. Nilai-nilai etika tersebut dalam suatu organisasi dituangkan dalam aturan atau ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Aturan ini mengatur bagaimana seseorang harus bersikap atau berperilaku ketika berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu organisasi dan dengan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut. Cukup banyak aturan dan ketentuan dalam organisasi yang mengatur struktur hubungan individu atau kelompok dalam organisasi serta dengan masyarakat di lingkungannya sehingga menjadi kode etik atau pola perilaku anggota organisasi bersangkutan. Birokrasi Nilai-nilai yang berlaku dalam suatu organisasi secara konseptual telah dikembangkan sejak munculnya teori tentang organisasi. Salah satu teori klasik tentang organisasi yang cukup dikenal dan sangat berpengaruh terhadap pengembangan organisasi adalah birokrasi. Menurut teori ini, ciri organisasi yang ideal yang sekaligus menjadi nilai-nilai perilaku yang harus dianut oleh setiap anggota organisasi adalah:  adanya pembagian kerja
a)      hierarki wewenang yang jelas
b)      prosedur seleksi yang formal
c)      aturan dan prosedur kerja yang rinci, serta
d)     hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi.
Teori birokrasi menempatkan setiap anggota organisasi dalam suatu hierarki struktur yang jelas, setiap pekerjaan harus diselesesaikan berdasarkan prsedur dan aturan kerja yang telah ditetapkan, dan setiap orang terikat secara ketat dengan aturan-aturan tersebut. Selain itu, hubungan antarindividu dalam organisasi dan dengan lingkungan di dalam organisasi hanya dibatasi dalam hubungan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam model organisasi ini pola perilaku yang berkembang bersifat sangat kaku dan formal
Referensi:
http://www.scribd.com/doc/3780808/Etika-Organisasi

0 Asal-usul Tapis Lampung


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (http://www.visitlampung2009.com).
Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan http://www.visitlampung2009.com, sejak abad II masehi orang-orang lampung telah menenun kain brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai. Kedua hasil tenunan tersebut memiliki motif-motif seperti motif kait dan konci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, serta bunga melati. Setelah melewati rentang waktu yang cukup panjang, akhirnya lahirlah kain tapis Lampung. Orang-orang Lampung terus mengembangkan Kain Tapis sesuai dengan perkembangan zaman, baik pada aspek teknik dan keterampilan pembuatannya, bentuk motifnya, maupun metode penerapan motif pada kain dasar Tapis (http://lili.staff.uns.ac.id).
Ragam hias Kain Tapis misalnya, terus berkembang seiring terjalinnya kontak, interaksi, dan komunikasi masyarakat adat Lampung dengan kebudayaan lain. Pertemuan dengan kebudayaan lain tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi antara unsur-unsur hias kebudayaan tempatan (lama) dengan unsur-unsur hias kebudayaan asing (baru). Unsur-unsur asing yang datang tidak menghilangkan unsur-unsur lama, akan tetapi semakin memperkaya corak, ragam, dan gaya yang sudah ada. Berbagai kebudayaan tersebut terpadu dan terintegrasi dalam satu konsep utuh yang tidak dapat dipisahkan dan melahirkan corak baru yang unik dan khas. Kebudayaan yang memberikan pengaruh pada pembentukan gaya seni hias kain tapis antara lain, kebudayaan Dongson dari daratan Asia, Hindu-Budha, Islam, dan Eropa (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam perkembangannya, tidak semua orang Lampung menggunakan Kain Tapis. Hanya suku Lampung yang beradat Pepadun yang memproduksi, menggunakan, dan mengembangkan Kain Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup (http://wisatalampung.com, http://id.wikipedia.org, http://arthaliwa.wordpress.com).
Selain sebagai bukti pencapaian kreatifitas masyarakat Lampung dalam menyerap kebudayaan luar, Kain Tapis bagi masyarakat Lampung juga sebagai simbol kesucian. Artinya, orang-orang Lampung meyakini bahwa dengan memakai kain ini mereka akan terjaga dari segala kotoran luar. Makna simbolis ini terdapat pada kesatuan utuh antara bentuk motif-motifnya dengan kain dasar sebagai wujud kepercayaan yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org, http://wisatalampung.com, http://arthaliwa.wordpress.com).
Kain Tapis biasanya dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam kegiatan sosial dan keagamaan tersebut, Kain Tapis berfungsi sebagai penanda status sosial pemakainya. Penggunaan Kain Tapis sebagai penanda status sosial dapat dilihat pada masyarakat Lampung yang beradat Pepadun. Dalam kelompok adat ini, masyarakat tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu punyimbang marga atau paksi yang membawahi tiyuh (kampung), punyimbang tiyuh yang membawahi beberapa suku atau bilik, dan (3) punyimbang suku yang membawahi beberapa nuwow balak (rumah adat). Tingkatan-tingkatan status sosial tersebut memunculkan aturan pemakaian kain tapis. Dengan kata lain, jenis Kain Tapis yang dipakai harus disesuaikan dengan status sosial seseorang dalam masyarakat (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org).
Seiring perkembangan zaman, Kain Tapis juga mengalami perkembangan dan perubahan, baik pada aspek makna simbolis-filosofis yang terkandung dalam kain, maupun pada bentuk fisik dan ragam motifnya. Perubahan makna simbolis-filosofis motif Kain Tapis merupakan perubahan hal yang paling esensial. Jika pada awalnya pembuatan motif disesuaikan dengan keperluan-keperluan adat yang spesifik atau mengungkapkan pesan-pesan tertentu, maka saat ini motif Kain Tapis hanya dilihat dari aspek keindahannya semata. Betapa motif pada Kain Tapis mempunyai makna simbolis-filosofis dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
”…..dulu masyarakat di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, hingga pesisir Krui di Lampung Barat menulis kehidupan mereka pada selembar kain. Karena kehidupan mereka dekat dengan laut, gambar yang muncul pun tak jauh dari laut, seperti gambar kapal dan binatang laut.” (http://www.korantempo.com).
Hilangnya makna simbolis-filosofis merupakan dampak dari, baik langsung atau tidak langsung, berubahnya fungsi Kain Tapis. Kain Tapis yang pada awalnya merupakan benda sakral yang terkait erat dengan adat dan kepercayaan masyarakat Lampung kini berkembang dan berubah menjadi benda profan untuk memenuhi komoditi pasar.
Perkembangan dan perubahan juga terjadi pada bentuk fisik dan ragam motif Kain Tapis. Hal ini secara mudah dapat dilihat dari semakin beragamnya derivasi produk Kain Tapis. Jika pada awalnya produk Kain Tapis hanya berupa kain sarung adat dan dibuat hanya untuk memenuhi keperluan adat, maka saat ini produk Kain Tapis telah mengalami modifikasi dan diversivikasi sehingga tercipta berbagai produk seni kerajinan Kain Tapis, seperti busana muslim, hiasan dinding, kaligrafi, perlengkapan kamar tidur, tas, dompet, kopiah, dan lain sebagainya (http://lili.staff.uns.ac.id)
Beragamnya derivasi produk Kain Tapis merupakan bukti nyata bahwa kain ini selain memiliki nilai budaya tinggi, juga memiliki nilai-nilai ekonomis. Ketika sebuah benda budaya telah teridentifikasi dan disadari mempunyai nilai ekonomis, maka biasanya akan diikuti oleh munculnya klaim-klaim untuk memiliki nilai ekonomis kain tersebut. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya jika segenap stake holder berupaya untuk menjaga dan melindungi Kain Tapis, tidak saja pada eksistensinya, tetapi juga nilai-nilai, seperti nilai ekonomis, yang dikandungnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga, melindungi, dan mengembangkan kain tapis, diantaranya adalah mematenkan hak cipta, sosialisasi kain tapis, dan eksplorasi nilai ekonomis Kain Tapis. Pertama, mematenkan hak cipta Kain Tapis. Kelalaian mematenkan hak cipta Kain Tapis tidak saja dapat menghilangkan hak ekonomi yang melekat pada kain, tetapi juga hilangnya kebanggaan masyarakat karena diklaim oleh pihak lain. Seringkali kita sangat bangga dengan banyaknya warisan budaya yang kita miliki, tetapi terkadang hak ekonominya tidak kita miliki sehingga warisan budaya tersebut tidak bisa digunakan untuk menopang kesejahteraan pemilik warisan budaya tersebut.
Kedua, Sosialisasi Kain Tapis. Ketika tulisan ini dibuat, cukup sulit untuk mencari referensi tentang Kain Tapis. Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan, hampir semua isinya sama. Minimnya referensi tentang Kain Tapis ternyata juga pararel dengan minimnya orang-orang Lampung, khususnya generasi mudanya, yang mengetahui kain ini. Beberapa responden orang Lampung yang dihubungi misalnya hanya mengetahui bahwa Kain Tapis adalah kain tradisional Lampung. Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan dan berbahaya terhadap kelangsungan eksistensi Kain Tapis. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan sosialisasi, khususnya kepada siswa-siswa sekolah. Misalnya dengan menjadikan  Kain Tapis sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal. Melalui cara ini, para siswa tidak hanya mengetahui bentuk formal (fisik) Kain Tapis, tetapi juga nilai-nilai yang dikandungnya.
Ketiga, agar masyarakat mempunyai ketertarikan untuk melestarikan dan mengembangkan Kain Tapis, maka keberadaan Kain Tapis harus memberikan manfaat bagi peningkatan kesehjateraan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah dan lembaga terkait harus bekerjasama untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan dalam bidang produksi, permodalan, distribusi, dan pemasaran.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!





TRADISI dan MASA DEPAN KEKUATAN SEBUAH KEBUDAYAAN memaknai
Pesta Budaya Sekura di Kabupaten Lampung Barat


Sebuah kebudayaan, sejatinya merupakan kristalisasi pemikiran manusia dari hasil adaptasi, interaksi, pencarian, penjelajajahan, imajinasi, permenungan bahkan kadang-kadang penemuan coba-coba terhadap alam, hubungan sesama manusia, dunia abstrak serta dunia transedensi, kebudayaan diciptakan oleh manusia-manusia kreatif untuk mengatasi, menjelaskan dan menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya berkenaan dengan dunia dimana manusia itu berada. Artinya, sebuah kebudayaan mestinya menjadi sesuatu yang sangat dekat dengan dunia lahir bathin pemiliknya karena ia terbit dan berakar dari persoalan-persoalan setempat. Jika sebuah kebudayaan mampu bertahan dalam rentang waktu yang panjang, niscaya ia memberikan suatu yang dibutuhkan oleh manusia pemiliknya dan sebaliknya kebudayaan tanpa akar yang kokoh hanya akan menjadikan kebingungan dan keterasingan.
SEKURA adalah satu dari sekian bentuk/hasil kebudayaan kuno di Lampung, menilik nukilan-nukilan inskripsi arkeologi, Sekura telah diwariskan oleh para leluhur orang Lampung ketika negara-negara tradisional yang tercatat dalam sejarah belum lagi lahir. Kita kemudian mahfum. Ketika negara-negara tradisional itu runtuh dan berganti dengan negara baru, kebudayaan sekura masih terus bertahan dan menyebar menyatu dengan jiwa masyarakat. Bahkan ketika hasrat membentuk Negara Bangsa yang bernama Indonesia, tidak lagi bisa dibendung, sekura masih terus bertahan dan melanjutkan eksistensinya.
Sedikit di ilustrasikan tentang Pesta Budaya Sekura, Pesta Budaya Sekura adalah Pesta Budaya Tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri biasanya mulai dari 1 Syawal sampai 6 atau 7 Syawal setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lain.Pesta Budaya Sekura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas theatre luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi. Sekura dalam kebudayaan ini artinya topeng/penutup wajah (menutup wajah) atau merubah penampilan yang menggambarkan berbagai bentuk sifat dimuka bumi ini tapi dalam pesta sekura ini penggambarannya adalah suasana kegembiraan dan kebebasan berkreasi dan berekspresi dalam kebersamaan berkelompok.
Pesta Budaya Sekura secara definisi merupakan perayaan dan atau ungkapan kegembiraan masyarakat secara bersama-sama dengan bertopeng (menutup wajah) dan merubah penampilan sedemikian rupa yang sifatnya menghibur serta bertujuan utama bersilaturahim yang berpuncak pada panjat pinang secara berkelompok dengan sistim beguai jejama (gotong royong). Sekura secara teknis dibagi 2 kelompok :
SEKURA BETIK (Helau), penampilannya helau (indah) lucu, bersih dan sifatnya sebagai penghibur, dengan menggunakan kaca mata gelap dan semua kostum dari kain panjang dan biasanya penutup kepala menggunakan selindang miwang (kain khas sebutan masyarakat Lampung Barat), kemudian pinggangnya juga dipenuhi gantungan kain panjang, banyak atau sedikitnya kain panjang yang dipakai oleh seorang atau kelompok orang yang sedang bersekura menunjukkan banyak atau sedikitnya Muli yang jadi pengikutnya (dalam Kebotnya/kelompoknya) karena kain panjang yang dipakai oleh Sekura tersebut dahulunya adalah hasil pinjaman dari muli-muli yang ada dalam Jukku/Kebot adatnya. sekura betik labih mengarah pada menghibur penonton dengan tingkah mereka yang bebas berekspresi, sekura betik tidak berhak mengikuti panjat pinang, hanya sebagai penggembira.
SEKURA KAMAK (kotor), memiliki penampilan kotor, bisa disebut sebagai juga sebagai “Sekura Calak”. Kamak (kotor) adalah ciri sekura ini yaitu memakai topeng dari bahan Kayu atau dari bahan-bahan alami (tumbuh-tumbuhan) dan atau terbuat dari bahan-bahan yang jelek/bekas yang membaluri tubuh mereka yang akan menjadikan penampilannya menjadi lebih unik dan kotor dengan pakaian aneh dan lucu. Sekura Kamak berhak memanjat pinang yang telah ditentukan, untuk bersaing dan bekerjasama dalam berkelompok untuk mencapai puncak dan menjadi pemenang.
Kini kita beruntung hidup dan menjadi bagian dari masa dimana batas-batas ruang dan waktu menjadi begitu maya akibat pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa seperti itu, kita seolah tenggelam dalam aliran deras unsur dan bentuk-bentuk budaya yang akar dan sumbernya antah berantah. Tanpa persikafan bijak dan hati-hati terhadap fenomena seperti itu kita akan hanyut kedalam lautan yang membingungkan dan ironi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mestinya mempermudah dan mensejahterakan hidup manusia, bisa berbalik memperbudak dan menghadirkan bencana. Politik yang sedianya menjadi jalan mencapai tujuan bersama, bisa terdistorsi menjadi lahan perebutan dengan mengorbankan kebersamaan. Lampung Barat menyimpan segala potensi bagi sebuah kebangkitan menyongsong masa depan dengan berpijak pada tradisi yang berakar dalam.
Pesta Budaya Sekura diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan kebudayaan dan meneteskan inspirasi untuk lahirnya gerakan-gerakan kebudayaan yang lebih besar dan menyeluruh. Pesta Budaya Sekura moga-moga bisa menjadi salah satu titik berangkat bagi pemaknaan kehidupan kreatifitas, moralitas, nilai-nilai sosial, budaya dan kemanusian dalam cara-cara yang kreatif dan berwawasan kedepan, intelektualitas tanpa kreatifitas hanya akan membawa suatu bangsa menempati posisi pengekor bukan pelopor. Kekinian adalah sejarah yang berjalan, sebuah tradisi membangun. Penetapan ikon sekura pada core event berskala nasional Festival Krakatau Provinsi Lampung 2 tahun terakhir ini sebagai dorongan dalam berkreasi merupakan langkah kreatif. Tentunya diharapkan juga kemunculan ide-ide baru sejenis yang tujuan pokoknya adalah menggali dan melestarikan seni budaya warisan leluhur, tidak kalah pentingnya Pesta Budaya Sekura akan membantu masyarakat dalam memahami berbagai nilai seni budaya masyarakat Lampung dan masa lalu, masa kini dan masa-masa mendatang. Kebudayaan dalam masyarakat tradisional mempunyai posisi, fungsi dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan, akan estetika, etika, spritualitas, identifikasi, komunalitas dan juga ekonomi.
Sekura dalam perkembangannya mengalami reduksi fungsi sehingga terus menerus hingga berjarak dengan masyarakatnya. Bukankan kekinian adalah sejarah yang berjalan, sebuah tradisi yang membangun? Tidak hanya mempresentasikan sebuah bentuk seni/kebudayaan yang disikapi sebagai tontonan belaka, oleh karena itu disini diharapkan masyarakat dapat terlibat langsung dengan mengekspresikan gagasan tentang SEKURA supaya dianggap penting oleh masyarakat sehingga muncul gagasan-gagasan dari masyarakat untuk terlibat dalam kreasi seni, maka pembayangan sekura dimasa depan akan lebih nyata dan terbaca kemungkinan-kemungkinannya. Pesta Budaya Sekura diharapkan bukan hanya perhelatan dan pesta budaya belaka namun juga untuk kembali menggali spirit sekura dalam memory kolektif masyarakat.
Mungkin ini hanya sebuah daya kejut kepada masyarakat namun diharapkan mempunyai dampak yang signifikan untuk mengembalikan identitas atau alternatif identitas di era sekarang yang cenderung menuju kebudayaan yang instant dan seragam. Harapan terbesar tujuan utama dari Pesta Budaya Sekura adalah Sebagai sprit sumber penciptaan seni kekinian yang multi dimensional agar menjadi warisan generasi mendatang.
Sumber: http://se-canggu.blog.friendster.com/

0 Sejarah Suku Bangsa/Etnis Lampung


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten. Sekala Brak memiliki makna yang dalam dan sangat penting bagi bangsa Lampung. Ia melambangkan peradaban, kebudayaan dan eksistensi Lampung itu sendiri. Bukti tentang kemasyuran kerajaan Sekala Brak didapat dari cerita turun temurun yang disebut warahan, warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan situs seperti tambo dan dalung seperti yang terdapat di Kenali, Batu Brak dan Sukau. Kata LAMPUNG sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.

Dilereng Gunung Pesagi didapati situs seperti batu batu bekas Negeri atau Pekon kuno, tapak bekas kaki, pelataran peradilan dan tempat eksekusi, serta Prasasti yang terpahat pada batuan. Dari sebuah batu yang bertarikh 966 Caka yang terdapat di Bunuk Tenuar Liwa, ternyata telah ada suku bangsa yang beragama Hindu telah menjadi penghuni didataran Lampung. Didalam rimba rimba ditemukan parit parit dan jalan jalan bekas Zaman Hindu bahkan pada perkebunan tebu terdapat batu batu persegi dan diantaranya didapat batuan berukir yang merupakan puing candi.

Tafsiran para ahli purbakala seperti Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich didalam menghubungkan bukti bukti memiliki pendapat yang berbeda beda namun secara garis besar didapat benang merah kesamaan dan acuan yang tidak diragukan didalam menganalisa bahwa Sekala Brak merupakan cikal bakal bangsa Lampung. Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak diantara pulau Jawa dan Kamboja. menurut catatan kitab, masyarakat Kendali ini mempunyai adat istiadat yang sama dengan bangsa Siam dan Kamboja. Baginda dari Kendali-Sapanalanlinda mengirimkan seorang utusan yang bernama Taruda ke negeri Tiongkok dengan membawa hadiah emas dan perak, utusan yang demikian dikirim berturut turut hingga abad ke enam.

Menurut L.C. Westenenk nama Kendali ini dapat kita hubungkan dengan Kenali ibukota kecamatan Belalau sekarang. Nama Sapalananlinda itu menurut kupasan dari beberapa ahli sejarah, dikarenakan berhubung lidah bangsa Tiongkok tidak fasih melafaskan kata Sribaginda, ini berarti Sapanalanlinda bukanlah suatu nama. Berdasarkan Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, dataran Sekala Brak tersebut pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi yang menganut faham animisme. Suku bangsa ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah.

Keistimewaan Belasa Kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka Belasa Kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi. Diriwayatkan didalam Tambo empat orang Putera Raja Pagaruyung tiba di Sekala Brak untuk menyebarkan agama Islam. Fase ini merupakan bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Keempat Putera Raja ini masing masing adalah:

Umpu Bejalan Di Way
Umpu Belunguh.
Umpu Nyerupa.
Umpu Pernong.

Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Skala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat. Setelah perserikatan ini cukup kuat maka suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah agama Islam di Sekala Brak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan sebagian lagi ke daerah Palembang.

Dataran Sekala Brak yang telah dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama PAKSI PAK SEKALA BRAK. Inilah cikal bakal Kerajaan Sekala Brak yang merupakan puyang bangsa Lampung. Kerajaan Sekala Brak mereka bagi menjadi empat Marga atau Kebuayan yaitu: Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way. Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh. Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong. Sedangkan Si Bulan mendapatkan daerah Cenggiring namun kemudian Si Bulan berangkat dari Sekala Brak menuju kearah matahari hidup. Dan daerah pembagiannya digabungkan ke daerah Paksi Buay Pernong karena letaknya yang berdekatan.

Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya. Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang untuk kemudian dibuat PEPADUN. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya. Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal abad ke 9 Masehi para Saibatin Raja Raja di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.Ada dua makna didalam mengartikan kata Pepadun, yaitu:

Dimaknakan sebagai PAPADUN yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk diatasnya adalah Raja. Dimaknakan sebagai PAADUAN yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk diatasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan. Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan bagi Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi maka Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun. Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya memerlukan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya maka Pepadun itu dapat diambil atau dipinjam yang setelah digunakan harus dikembalikan. Adanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan diantara keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari. Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan diantara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Maka atas keputusan kerapatan adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kepaksian_Sekala_Brak

0 CONTOH SURAT LAMARAN KERJA


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Bandung, 21  juli 2010

Kepada
Yth. Bapak/ibu Direktur  Rabbani
Di 
Tempat
Hal: Lamaran Kerja
Dengan Hormat.
            Setelah mendapatkan informasi dari  Rabbani  pada tanggal 20 juli 2010 yang menyatakan bahwa Rabbani  yang ibu/bapak pimpin menerima lowongan pekerjaan untuk di tempatkan di Staff Sales Canvanser, maka yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama Lengkap: Aprilandi
Tempat tanggal lahir: Lampung, 21 April 1988
Alamat Asal: Kp. Sekebolek RT/RW 06//07. Desa Rahayu kec. Margaasih Kab. Bandung 40218
Alamt tinggal sekarang: Jl. Desa Cipadung No: 65 RT/RW 03/06 Cisalatri Utara Cipadung Cibiru Bandung Dekat Masjid At-Tarbiyatul Islamiyah 40614
No tlp: 085294437096
Dengan ini mengajukan permohonanan untuk diterima sebagai pegawai di perusahaan yang bapak/ibu pimpin.
Bersama ini saya lampirkan:
1.      Foto kopi KTP
2.      Foto kopi Ijazah
3.      Pas photo ukuran 3x4 sebanyak 1 Lembar
4.      Foto copy keterangan sehat dari dokter
5.      Daftar Riwayat Hidup
Demikian surat lamaran ini, Atas segala perhatian Bapak/Ibu saya mengucapkan terima kasih. 

1 MANAJEMEN ORGANISASI NIRLABA


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

BAB I

PEMBAHASAN

ANALISIS KEADAAN INDONESIA


A. Definisi Organisasi Nirlaba

Adalah suatu organisasi mandiri yang menekankan pada kerja pelayanan sosial dengan tidak bermaksud untuk menarik keuntungan yang bernilai bisnis dari usaha yang dilakukan.Organisasi nirlaba merupakan organisasi yang dikelola swasta dan bersifat mandiri dalam segi pembiayaan dan pengelolaannya. Kerja pelayaan sosialnya bersifat sukerela karena anggota dari organisasi ini tidak bersifat mengikat (sukarelawan). Organisasi Nirlaba menekankan pada pemberian pelayanan pada kepentingan publik.

B. Perbedaan organisasi nirlaba dengan organisasi laba

Banyak hal yang membedakan antara organisasi nirlaba dengan organisasi lainnya (laba). Dalam hal kepemilikan, tidak jelas siapa sesungguhnya ’pemilik’ organisasi nirlaba, apakah anggota, klien, atau donatur. Pada organisasi laba, pemilik jelas memperoleh untung dari hasil usaha organisasinya. Dalam hal donatur, organisasi nirlaba membutuhkannya sebagai sumber pendanaan. Berbeda dengan organisasi laba yang telah memiliki sumber pendanaan yang jelas, yakni dari keuntungan usahanya. Dalam hal penyebaran tanggung jawab, pada organisasi laba telah jelas siapa yang menjadi Dewan Komisaris, yang kemudian memilih seorang Direktur Pelaksana. Sedangkan pada organisasi nirlaba, hal ini tidak mudah dilakukan. Anggota Dewan Komisaris bukanlah ’pemilik’ organisasi

Organisasi nirlaba, non-profit, membutuhkan pengelolaan yang berbeda dengan organisasi profit dan pemerintahan. Pengelolaan organisasi nirlaba dan kriteria-kriteria pencapaian kinerja organisasi tidak berdasar pada pertimbangan ekonomi semata, tetapi sejauhmana masyarakat yang dilayaninya diberdayakan sesuai dengan konteks hidup dan potensi-potensi kemanusiaannya. Sifat sosial dan kemanusiaan sejati merupakan ciri khas pelayanan organisasi-organisasi nirlaba. Manusia menjadi pusat sekaligus agen perubahan dan pembaruan masyarakat untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan kesejahteraan, kesetaraan gender, keadilan, dan kedamaian, bebas dari konfilk dan kekerasan. Kesalahan dan kurang pengetahuan dalam mengelola organisasi nirlaba, justru akan menjebak masyarakat hidup dalam kemiskinan, ketidakberdayaan, ketidaksetaraan gender, konflik dan kekerasan sosial. Pengelolaan organisasi nirlaba, membutuhkan kepedulian dan integritas pribadi dan organisasi sebagai agen perubahan masyarakat, serta pemahaman yang komprehensif dengan memadukan pengalaman-pengalaman konkrit dan teori manajemen yang handal, unggul dan mumpuni, sebagai hasil dari proses pembelajaran bersama masyarakat.

Dalam konteks pembangunan organisasi nirlaba yang unggul, berkelanjutan dan memberikan energi perubahan dan pembaruan bagi masyarakat, Bernardine R. Wirjana, profesional dalam bidang pemberdayaan masyarakat, yang selama dua dasawarsa menjadi pelaku manajemen organisasi nirlaba, mengabadikan proses pembelajaran atas pengalaman-pengalaman laoangan dan teori-teori manajemen terkini dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

C. keadaan organissai nirlaba di indonesia

Menurut Wikipedia Indonesia, organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal didalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institut riset, museum, dan beberapa para petugas pemerintah.

Karakter dan tujuan dari organisasi non profit menjadi jelas terlihat ketika dibandingkan dengan organisasi profit. Organisasi non profit berdiri untuk mewujudkan perubahan pada individu atau komunitas, sedangkan organisasi profit sesuai dengan namanya jelas-jelas bertujuan untuk mencari keuntungan. Organisasi nonprofit menjadikan sumber daya manusia sebagai asset yang paling berharga, karena semua aktivitas organisasi ini pada dasarnya adalah dari, oleh dan untuk manusia.

Organisasi profit memiliki kepentingan yang besar terhadap berkembangnya organisasi nirlaba. Dari onganisasi inilah sumber daya manusia yang handal terlahir, memiliki daya saing yang tinggi, aspek kepemimpinan, serta sigap menghadapi perubahan. Hampir diseluruh dunia ini, organisasi nirlaba merupakan agen perubahan terhadap tatanan hidup suatu komunitas yang lebih baik. Daya jelajah mereka menyentuh pelosok dunia yang bahkan tidak bisa terlayani oleh organisasi pemerintah. Kita telah saksikan sendiri, bagaimana efektifnya daya jelajah organisasi nirlaba ketika terjdi bencana tsunami di Aceh, ratusan organisasi nirlaba dari seluruh dunia seakan berlomba membuat prestasi tehadap proyek kemanusiaan bagi masyarakat Aceh. Organisasi profit juga mendapatkan keuntungan langsung dengan majunya komunitas, mereka mendapatkan market yang terus bertumbuh karena daya beli komunitas yang kian hari kian berkembang atas pembinaan organisasi nirlaba.

Di Indonesia, sebagian besar organisasi non profit dalam keadaan lesu darah. Mereka sesuai dengan namanya kebanyakan miskin dana. Perbedaan mencolok terlihat dengan organisasi non profit yang memiliki induk di luar negeri. Kondisi ini sudah pasti memberi pengaruh terhadap quantitas dan qualitas dari gerak roda organisasi. Seharusnya organisasi non profit tidak jauh beda dengan organisasi profit, harus memiliki mission statement yang jelas, fokus dan aplikatif. Pernyataan misi organisasi sebaiknya sederhana dan mudah dipahami oleh stake holder organisasi. Kelemahan dari organisasi nirlaba Indonesia adalah tidak fokusnya misi. Sering misi dibuat dengan pilihan kata yang mengambang dan dapat multitafsir. Kalau kita sortir berdasarkan kata, maka kata yang paling banyak muncul barangkali kata sejahtera, adil, merata, berkesinambungan. Misi ini selanjutnya diterjemahkan kedalam sasaran-sasaran yang biasanya akan menjadi makin meluas dan tidak fokus. Kondisi ini juga berimbas pada rancangan struktur organisasi nirlaba Indonesia. Struktur organisasinya memasukkan semua bidang, rata-rata memiliki lebih dari 20 bidang. Banyak yang masih mengadaptasi organisasi politik karena dijaman orde baru hampir semua organisasi nonprofit yang berdiri menjadi underbow partai Golkar.

Masyarakat sekarang ini sudah dengan mudah mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia, mereka juga dengan mudah menjalin komunikasi serta menjadi anggota organisasi nirlaba asing. Disamping itu, komunitas yang tumbuh dan berkembang di dunia maya sendiri, telah menarik populasi yang sangat besar. Makin hari, organisasi konvensional makin ditinggalkan, yang dapat berkompetisi kedepan hanyalah organisasi yang mampu mengkombinasikan aktivitasnya dengan teknologi informasi. Kepemimpinan di seluruh organisasi memegang peranan yang vital, demikian pula dalam organisasi nirlaba. Kriteria pemimpin organisasi nirlaba yang paling utama adalah memiliki kemauan. Dalam konteks ini, pemimpin harus memiliki niat dan bukan dipaksa oleh orang lain. Dengan memiliki kemauan, otomatis akan memiliki pandangan terhadap apa saja yang harus dikerjakan dikemudian hari, serta mengetahui konsekwensi atas pengorbanan yang harus dijalani sebagai pemimpin organisasi nirlaba. Kriteria kedua adalah memiliki kapasitas untuk mendengar dan menyelesaikan permasalahan. Mendengar merupakan kriteria yang penting bagi pemimpin dalam organisasi nirlaba karena pemimpin akan selalu berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari para relawan sampai dengan orang-orang yang menjadi objek dari organisasi. Kriteria ketiga adalah memiliki kemampuan mengkader. Dengan mengkader maka keberlangsungan organisasi akan dapat terjamin. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bukan menghambat kemunculan kader-kader yang lebih muda, tetapi justru memberi inspirasi dan motivasi bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Sesungguhnya pemimpin yang berhasil mengkader adalah pemimpin yang berhasil membesarkan namanya sendiri secara tidak langsung. Kriteria keempat adalah memiliki kemampuan dalam hal pengumpulan dana. Hal ini sangat terkait dengan kemampuan determinasi serta kecerdasan pemimpin dalam merajut relasi antara donatur, volunteer dan masyarakat. Organisasi nirlaba telah banyak yang mengaplikasikan kriteria-kriteria tersebut untuk memilih pemimpinnya. Tapi sayang karena belum memiliki managemen pengumpulan dana yang baik, kriteria kemampuan finansial dari calon pemimpin sering dikedepankan. Hitler dalam perang dunia pertama menyatakan bahwa yang paling penting dalam perang adalah uang, yang kedua adalah uang dan yang ketiga adalah uang. Memang uang penting bagi organisasi non profit, tapi mengelola organisasi non profit tentunya berbeda dengan mengelola armada perang. Dalam organisasi non profit, dibutuhkan manajemen pengumpulan dana yang bersifat jangka panjang. Istilah fund rising di organisasi nirlaba sebenarnya lebih tepat kalau disebut sebagai fund development. Istilah ini signifikan karena bukan hanya dana yang menjadi perhatian tetapi juga orang-orang yang terlibat sebagai donatur dan volunteer juga menjadi perhatian utama untuk membangun dukungan yang bersifat jangka panjang.

D. Pentingnya Public Relations dalam Organisasi nirlaba.

       Karena sifat organisasi nirlaba yang bersifat mandiri dan sukerela maka PR dalam hal ini harus menggalakkan kampanye untuk meyakinkan dan membangkitkan kesadaran/tanggung jawab sosial masyarakat tentang nilai aktivitasnya melalui kampanye yang terus menerus agar mereka bersedia mendukung (khususnya dana), terlibat dan tetap percaya dalam program yang dilakukan. Kampanye juga digalakkan dalam mengembangkan saluran komunikasi dengan publik sehingga dapat menciptakan dan memelihara iklim yang menguntungkan untuk pengumpulan dana. PR dalam organisasi nirlaba dituntut untuk mampu membuat program PR seperti : tulisan (PR writing), buku mini, brosur, naskah pidato (radio/televisi), film. Dengan menggunakan beragam media komunikasi, misalnya publisitas pers, iklan, pidato umum, peragaan, pameran, majalah, artikel majalah, kisah, berita. Hal ini ditujukan untuk memberi informasi dan memotivasi konstituen utama organisasi (karyawan, sukarelawan) untuk mengabdikan diri mereka dan berkarya secara produktif untuk mendukung misi, tujuan dan sasaran organisasi. Sama dengan PR pada organisasi lainnya (Frazier Moore) fungsi PR dalam organisasi nirlaba : menentukan sikap publik terhadap organisasi (pencitraan), menilai-kesan publik thd organisasi, mencari apakh publik mengetahui tujuan, pelayanan dan pelaksanaan organisasi, menentukan kesalahpahaman yang terjadi, melaksanakan penelitian opini yang sangat penting untuk menyusun kebijaksanaan, perencanaan dan penilaian efektifitas program humas. Mengidentifikasi publik : anggota penyumbang/ donatur, pekerja sukarela, pemuka pendapat (Opinion Leader), atau publik umum.

E. Contoh Organisasi Nirlaba

a) Organisasi Kesejahteraan Sosial Masyarakat

b) Yayasan Sosial : Supersemar, Yatim Piatu dsb

c) Yayasan Dana , mis : YDSF, Pundi Amal SCTV, RCTI Peduli, Dompet Dhu’afa,

d) Lembaga Advokasi : Kontras, YLKI, Perlindungan kekerasan dalam RT

e) Balai Keselamatan : Tim SAR

f) Konservasi lingkungan / satwa : WALHI, Pro Fauna

g) Rumah Sakit dan Organisasi Kesehatan Masyarakat

h) Yayasan Kanker Indonesia

i) PMI

BAB II

KESIMPULAN

Di Indonesia, sebagian besar organisasi non profit dalam keadaan lesu darah. Mereka sesuai dengan namanya kebanyakan miskin dana. Perbedaan mencolok terlihat dengan organisasi non profit yang memiliki induk di luar negeri. Kondisi ini sudah pasti memberi pengaruh terhadap quantitas dan qualitas dari gerak roda organisasi. Seharusnya organisasi non profit tidak jauh beda dengan organisasi profit, harus memiliki mission statement yang jelas, fokus dan aplikatif. Pernyataan misi organisasi sebaiknya sederhana dan mudah dipahami oleh stake holder organisasi. Kelemahan dari organisasi nirlaba Indonesia adalah tidak fokusnya misi. Sering misi dibuat dengan pilihan kata yang mengambang dan dapat multitafsir. Kalau kita sortir berdasarkan kata, maka kata yang paling banyak muncul barangkali kata sejahtera, adil, merata, berkesinambungan

DAFTAR PUSTAKA

http://komangadi.wordpress.com/2007/11/22/mengelola-organisasi-nonprofit/

http://pr05ub.blogspot.com/2008/07/pr-organisasi-nirlaba-ratih.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_nirlaba#Indonesia

http://blogger.kebumen.info/docs/contoh-perusahaan-nirlaba-di-indonesia.php

0 SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


 BAB I
PEMBAHASAN
Pengertian Informasi
Ilmu Informasi adalah ilmu yang mempelajari data dan informasi, mencakup bagaimana menginterpretasi, menganalisa, menyimpan, dan mengambil kembali. Ilmu informasi dimulai sebagai dasar dari analisa komunikasi dan basis data.
Dunia masa depan adalah dunia informasi. Maju tidaknya suatu bangsa atau suatu Negara ditentukan oleh penguasa bangsa atau Negara atas informasi yang kian kompleks dan canggih. Bangsa Indonesia hanya akan berkembang maju apabila mampu menguasai informasi. Kalau informasi itu beum belum kita miliki, kita harus berupaya mendapatkannya dengan cara apapun.

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
PROPOSAL KEGIATAN PELATIHAN
OPTIMALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

I.          Latar Belakang

Tuntutan akan peran besar pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa tidak terelakkan lagi. Lembaga pendidikan harus benar-benar berusaha semaksimal mungkin dan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimiliki untuk mewujudkan tujuan pendidikan tadi.
Berdasarkan pernyataan di atas, sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan nasional di atas tentu tidak mudah. Semua warga sekolah mempunyai kewajiban yang sama untuk hal itu. Namun, faktor guru dalam mewujudkan tujuan nasional tersebut mempunyai peran yang paling besar.
Tujuan  pendidikan nasional selalu menyesuaikan diri dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Selarah dengan itu, tentu dalam rangka proses mempersiapkan sumber daya manusia yang diorientasikan dalam tujuan nasional pendidikan juga selalu berorientasi pada perkembangan IPTEK. Dalam proses mempersiapkan sumber daya manusia inilah peran guru sangat penting. Oleh karena itulah, guru juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam era teknologi ini selalu menggunakan teknologi informasi. Sarana komputer mempunyai peran yang sangat vital dalam era teknologi ini. Dengan computer segala sarana yang berkaitan dengan KBM tersedia dari program yang sederhana sampai program yang komplek seperti power point, buku elektronik, internet, dan lain-lain. Bahkan pada akhir-akhir ini, kegiatan penugasan siswa mulai dengan mempergunakan sarana komputer seperti email. Hal-hal itulah yang menuntut guru harus benar-benar menguasai teknologi informasi.


II.       Dasar Kegiatan
a.Undang-undang Sistem pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 bab XI pasal 40
b. Action Plan R-SMA-BI tahun2009/2010

III.    Tujuan
Kegiatan ini mempunyai tujuan umum yaitu meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan  belajar mengajar sehingga mampu mempraktikkan dalam kegiatan belajar mengajar. Selain tujuan umum di atas, kegiatan ini juga mempunyai tujuan khusus yaitu guru memahami, membuat, dan menggunakan
a.       e-mail dalam kegiatan belajar mengajar
b.      facebook dalam kegiatan belajar mengajar
c.       blog dan pemanfaatannya
d.      internet dalam belajar mengajar

IV.    Sasaran

Guru SMA Negeri 1 Lampung yang sudah menguasai program Microsoft word, power point, dan menggunakan internet dalam kegiatan belajar mengajar yang berjumlah 10 orang yaitu
1.    Drs. H. Busra
2.    Arifin Syafi’ie, S.Pd.        
3.    R. Dalhar Pilihanto, S.Pd.
4.     Ayu Herlina, S.Hut
5.    Rahman Haili, S.Pd.          
6.    Suparti, S.Pd.
7.    Fathul Rahmad
8.     Dra. Dahliana
9.    Drs. H. Syafuan Nur         
10.    Dra. Masruroh                             
11.    Jurkani, S.Pd.                              
12.    M. Farid Amrullah, S.Pd.                                   
13.    Drs. Abdul Muis 
14.    Dra. Ummi Masfiah
V.  Waktu dan Tempat
Kegiatan pelatihan ini akan dilaksanakan pada
Hari, tanggal                    : 01  s.d 04 Nopember 2010
Pukul                               : 09.00 s.d. 12.00 wib
Tempat                             : Laboratorium Komputer SMA Negeri 1 Lampung

VI.     Jadwal Kegiatan

No
Hari, tanggal
Pukul
Materi
Narasumber
Ket
1
Selasa,
01 Nopember   2010
09.00 - 12.00 wib
Pembuatan   e-mail
Syaiful Yazan, S.Pd., M.Pd.
Zaenal Abidin, A.Md.
Syahrullah

2
Rabu,
02 Nopember   2010
09.00 - 12.00 wib
Pembuatan Facebook dan penggunaannya
Syaiful Yazan, S.Pd., M.Pd.
Zaenal Abidin, A.Md.
Syahrullah

3
Kamis,
03. Nopember  2010
09.00 - 12.00 wib
Pembuatan blog  dan pemanfaatannya
Syaiful Yazan, S.Pd., M.Pd.
Zaenal Abidin, A.Md.
Syahrullah

4
Jumat,
04. Nopember  2010
09.00 - 12.00 wib
Pemanfaatan internet dlm KBM
Syaiful Yazan, S.Pd., M.Pd.
Zaenal Abidin, A.Md.
Syahrullah


VII.   Narasumber

No
Nama
Jabatan
Materi
1.
2.
3.
Syaiful Yazan, S.Pd., M.Pd.
Zaenal Abidin, A.Md.
Syahrullah
Narasumber
Pendamping
Pendamping
Pembuatan dan penggunaan e-mail, face book, blog, dan internet.

VIII.       Pembiayaan
Biaya  kegiatan Pelatihan Optimalisasi Teknologi Informasi dalam Kegiatan Belajar mengajar bersumber dari
a.       APBN
b.      Sharing APBD Pemprov Lampung
c.       Sharing Komite SMA Negeri 1 Lampung
Adapun rincian penggunaan dana sebagai berikut
Administrasi persiapan, pelaksanaan, pelaporan                                              Rp        150.000
Fotokopi bahan                                                                                                Rp
ATK peserta pensil a Rp. 2000, notebook a Rp 2000                          Rp          40.000
Kudapan peserta dan narasumber a. Rp 5.000 X 13 orang X 3 hari    Rp        195.000
Makan siang peserta dan narasumber  a Rp 10.000 X 13 Orang X 3 hari        Rp        390.000
Transport peserta Rp 15.000X 4 hari X …10.. orang                           Rp        600.000
Transport narasumber Rp 15.000X  4 hari X  3 orang                         Rp        180.000
Honor peserta Rp 5000. X 4 Hari  X 10  Orang                                               Rp        200.000
Honor narasumber Rp 5000  X  3 jam  X  4 hari  X 3 orang                Rp        60.000
Honor panitia
Penanggung Jawab                                                                               Rp        275.000
Ketua                                                                                                   Rp        250.000
Sekretaris                                                                                             Rp        225.000
Bendahara                                                                                           Rp        225.000
Anggota                                                                                               Rp        100.000
Jumlah                                                                                                 Rp        2890.000
IX.    Penutup
Demikian proposal ini diajukan semoga dapat disetujui dan partisipasi dari semua pihak sangat kami harapkan. Semoga rencana kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga membawa manfaat untuk semua pihak. Amin.


Hormat kami
Panitia Pelatihan Teknologi Informasi
SMA Negeri 1 Lampung

Ketua                                                                                                                   Sekretaris

Aprilandi                                                                                                                             Suparti, S.Pd.