Kamis, 04 November 2010

0 Asal-usul Tapis Lampung


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (http://www.visitlampung2009.com).
Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan http://www.visitlampung2009.com, sejak abad II masehi orang-orang lampung telah menenun kain brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai. Kedua hasil tenunan tersebut memiliki motif-motif seperti motif kait dan konci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, serta bunga melati. Setelah melewati rentang waktu yang cukup panjang, akhirnya lahirlah kain tapis Lampung. Orang-orang Lampung terus mengembangkan Kain Tapis sesuai dengan perkembangan zaman, baik pada aspek teknik dan keterampilan pembuatannya, bentuk motifnya, maupun metode penerapan motif pada kain dasar Tapis (http://lili.staff.uns.ac.id).
Ragam hias Kain Tapis misalnya, terus berkembang seiring terjalinnya kontak, interaksi, dan komunikasi masyarakat adat Lampung dengan kebudayaan lain. Pertemuan dengan kebudayaan lain tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi antara unsur-unsur hias kebudayaan tempatan (lama) dengan unsur-unsur hias kebudayaan asing (baru). Unsur-unsur asing yang datang tidak menghilangkan unsur-unsur lama, akan tetapi semakin memperkaya corak, ragam, dan gaya yang sudah ada. Berbagai kebudayaan tersebut terpadu dan terintegrasi dalam satu konsep utuh yang tidak dapat dipisahkan dan melahirkan corak baru yang unik dan khas. Kebudayaan yang memberikan pengaruh pada pembentukan gaya seni hias kain tapis antara lain, kebudayaan Dongson dari daratan Asia, Hindu-Budha, Islam, dan Eropa (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam perkembangannya, tidak semua orang Lampung menggunakan Kain Tapis. Hanya suku Lampung yang beradat Pepadun yang memproduksi, menggunakan, dan mengembangkan Kain Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup (http://wisatalampung.com, http://id.wikipedia.org, http://arthaliwa.wordpress.com).
Selain sebagai bukti pencapaian kreatifitas masyarakat Lampung dalam menyerap kebudayaan luar, Kain Tapis bagi masyarakat Lampung juga sebagai simbol kesucian. Artinya, orang-orang Lampung meyakini bahwa dengan memakai kain ini mereka akan terjaga dari segala kotoran luar. Makna simbolis ini terdapat pada kesatuan utuh antara bentuk motif-motifnya dengan kain dasar sebagai wujud kepercayaan yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org, http://wisatalampung.com, http://arthaliwa.wordpress.com).
Kain Tapis biasanya dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam kegiatan sosial dan keagamaan tersebut, Kain Tapis berfungsi sebagai penanda status sosial pemakainya. Penggunaan Kain Tapis sebagai penanda status sosial dapat dilihat pada masyarakat Lampung yang beradat Pepadun. Dalam kelompok adat ini, masyarakat tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu punyimbang marga atau paksi yang membawahi tiyuh (kampung), punyimbang tiyuh yang membawahi beberapa suku atau bilik, dan (3) punyimbang suku yang membawahi beberapa nuwow balak (rumah adat). Tingkatan-tingkatan status sosial tersebut memunculkan aturan pemakaian kain tapis. Dengan kata lain, jenis Kain Tapis yang dipakai harus disesuaikan dengan status sosial seseorang dalam masyarakat (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org).
Seiring perkembangan zaman, Kain Tapis juga mengalami perkembangan dan perubahan, baik pada aspek makna simbolis-filosofis yang terkandung dalam kain, maupun pada bentuk fisik dan ragam motifnya. Perubahan makna simbolis-filosofis motif Kain Tapis merupakan perubahan hal yang paling esensial. Jika pada awalnya pembuatan motif disesuaikan dengan keperluan-keperluan adat yang spesifik atau mengungkapkan pesan-pesan tertentu, maka saat ini motif Kain Tapis hanya dilihat dari aspek keindahannya semata. Betapa motif pada Kain Tapis mempunyai makna simbolis-filosofis dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
”…..dulu masyarakat di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, hingga pesisir Krui di Lampung Barat menulis kehidupan mereka pada selembar kain. Karena kehidupan mereka dekat dengan laut, gambar yang muncul pun tak jauh dari laut, seperti gambar kapal dan binatang laut.” (http://www.korantempo.com).
Hilangnya makna simbolis-filosofis merupakan dampak dari, baik langsung atau tidak langsung, berubahnya fungsi Kain Tapis. Kain Tapis yang pada awalnya merupakan benda sakral yang terkait erat dengan adat dan kepercayaan masyarakat Lampung kini berkembang dan berubah menjadi benda profan untuk memenuhi komoditi pasar.
Perkembangan dan perubahan juga terjadi pada bentuk fisik dan ragam motif Kain Tapis. Hal ini secara mudah dapat dilihat dari semakin beragamnya derivasi produk Kain Tapis. Jika pada awalnya produk Kain Tapis hanya berupa kain sarung adat dan dibuat hanya untuk memenuhi keperluan adat, maka saat ini produk Kain Tapis telah mengalami modifikasi dan diversivikasi sehingga tercipta berbagai produk seni kerajinan Kain Tapis, seperti busana muslim, hiasan dinding, kaligrafi, perlengkapan kamar tidur, tas, dompet, kopiah, dan lain sebagainya (http://lili.staff.uns.ac.id)
Beragamnya derivasi produk Kain Tapis merupakan bukti nyata bahwa kain ini selain memiliki nilai budaya tinggi, juga memiliki nilai-nilai ekonomis. Ketika sebuah benda budaya telah teridentifikasi dan disadari mempunyai nilai ekonomis, maka biasanya akan diikuti oleh munculnya klaim-klaim untuk memiliki nilai ekonomis kain tersebut. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya jika segenap stake holder berupaya untuk menjaga dan melindungi Kain Tapis, tidak saja pada eksistensinya, tetapi juga nilai-nilai, seperti nilai ekonomis, yang dikandungnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga, melindungi, dan mengembangkan kain tapis, diantaranya adalah mematenkan hak cipta, sosialisasi kain tapis, dan eksplorasi nilai ekonomis Kain Tapis. Pertama, mematenkan hak cipta Kain Tapis. Kelalaian mematenkan hak cipta Kain Tapis tidak saja dapat menghilangkan hak ekonomi yang melekat pada kain, tetapi juga hilangnya kebanggaan masyarakat karena diklaim oleh pihak lain. Seringkali kita sangat bangga dengan banyaknya warisan budaya yang kita miliki, tetapi terkadang hak ekonominya tidak kita miliki sehingga warisan budaya tersebut tidak bisa digunakan untuk menopang kesejahteraan pemilik warisan budaya tersebut.
Kedua, Sosialisasi Kain Tapis. Ketika tulisan ini dibuat, cukup sulit untuk mencari referensi tentang Kain Tapis. Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan, hampir semua isinya sama. Minimnya referensi tentang Kain Tapis ternyata juga pararel dengan minimnya orang-orang Lampung, khususnya generasi mudanya, yang mengetahui kain ini. Beberapa responden orang Lampung yang dihubungi misalnya hanya mengetahui bahwa Kain Tapis adalah kain tradisional Lampung. Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan dan berbahaya terhadap kelangsungan eksistensi Kain Tapis. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan sosialisasi, khususnya kepada siswa-siswa sekolah. Misalnya dengan menjadikan  Kain Tapis sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal. Melalui cara ini, para siswa tidak hanya mengetahui bentuk formal (fisik) Kain Tapis, tetapi juga nilai-nilai yang dikandungnya.
Ketiga, agar masyarakat mempunyai ketertarikan untuk melestarikan dan mengembangkan Kain Tapis, maka keberadaan Kain Tapis harus memberikan manfaat bagi peningkatan kesehjateraan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah dan lembaga terkait harus bekerjasama untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan dalam bidang produksi, permodalan, distribusi, dan pemasaran.

0 komentar: