Kamis, 04 November 2010

0 PARADIGMA MANAJEMEN DAN ORGANISASI


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
Manajemen berasal dari bahasa Inggris: management dengan kata kerja to manage yang secara umum berarti mengurusi. Dalam arti khusus manajemen dipakai bagi pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin. Manajemen  kemudian diartikan sebagai suatu rentetan langkah yang terpadu untuk mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomi-teknis. Definisi lebih rinci disampaikan Stonner dalam Management (1978),  yaitu sebagai  proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber-sumber organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Dari pengertian tersebut di atas, maka organisasi didudukkan sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomi-teknis. Sistem adalah suatu keseluruhan dinamis yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan secara organik. Dinamis berarti bergerak, berkembang ke arah suatu tujuan. Sosio (sosial) berarti yang bergerak di dalam dan yang menggerakkan sistem itu ialah manusia. Ekonomi berarti kegiatan dalam sistem bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teknis berarti dalam kegiatan dipakai harta, alat-alat dan cara-cara tertentu. 
 Sementara kepanitian adalah sebuah kelompok orang sebagai suatu kelompok yang diserahi suatu masalah untuk dipecahkan.  Kepanitiaan dibentuk sebagai bagian dari struktur organisasi dengan  tugas dan wewenang yang didelegasikan secara spesifik.  Keuntungan untuk mendapatkan pemikiran dan pertimbangan kelompok, penghindaran sentralisasi kewenangan pada satu pihak, motivasi partisipasi, kemudahan koordinasi dan distribusi  tugas dan informasi adalah beberapa alasan terbentuknya kepanitiaan.
Perspektif Islam meluruskan pandangan ini.   Islam memandang bahwa keberadaan manajemen sebagai suatu kebutuhan yang tak terelakkan dalam memudahkan implementasi  Islam  dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.   Implementasi nilai-nilai Islam  berwujud pada difungsikannya Islam sebagai kaidah berpikir dan kaidah amal dalam kehidupan. Sebagai kaidah berpikir, syariah difungsikan sebagai asas dan landasan pola pikir. Sedangkan sebagai kaidah amal,  syariah difungsikan  sebagai tolok ukur perbuatan. Jadi, manajemen diperlukan untuk mengelola berbagai sumberdaya, seperti sarana dan prasarana, waktu, SDM, metode dan lainnya dalam rangka pencapaian tujuan implementasi nilai-nilai Islam secara efektif dan efisien.
Aplikasi manajemen  menyentuh semua bidang kehidupan (pemerintahan, industri, perdagangan, pertanian, dll) beserta seluruh aspeknya dari hulu hingga hilir. Selain sebagai tool, manajemen memiliki dua unsur lainnya, yakni subyek pelaku dan obyek tindakan.  Subyek pelaku manajemen tidak lain adalah manajer itu sendiri, apakah itu  pimpinan organisasi, kepala departemen, koordinator tim, ketua panitia atau lainnya. Sedangkan  obyek tindak manajemen terdiri atas organisasi, SDM, dana, operasi/produksi, pemasaran, waktu dan obyek lainnya. Disamping itu, manajemen  juga memiliki empat fungsi standar, yaitu fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating) dan pengawasan (controlling).
Sementara berkenaan dengan organisasi, Islam memandangnya sebagai suatu wadah sebagaimana komunitas dan masyarakat yang lebih luas yang hanya akan terjadi bilamana terdapat  interaksi  di antara anggotanya. Interaksi ini pun hanya dimungkinkan bila terdapat kesamaan maslahat di dalamnya.  Interaksi antar anggota ini ditandai oleh tiga unsur, yakni adanya kesamaan pemikiran dan perasaan tentang maslahat tersebut yang dibingkai dalam satu koridor aturan yang sama. Dengan berbasis pada perspektif Islam, maka interaksi yang berjalan mestilah interaksi yang Islami. Interaksi yang didalamnya terjalin kesamaan pemikiran, perasaan dalam satu aturan main yang sama, yakni Islam. Bila tidak, maka keterasingan antar elemen anggota akan menjadi suatu keniscayaan.
Dalam organisasi dakwah, maslahat yang dimaksud adalah keberlangsungan dakwah itu sendiri. Guna mewujudkan interaksi yang tepat dan optimal, maka maslahat ini memberikan prasyarat yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi dakwah. Prasyarat itu – sebagaimana disarikan dari Syekh Taqiyuddin An Nabahani dalam Kitab Takatul Hizby (1954) - adalah  bahwa (1)  organisasi dakwah haruslah berdiri atas dan dibentuk untuk mengusung satu fikroh yang jernih dan jelas, yakni Islam (QS. An Nahl: 125); (2) metodologi dakwah yang diterapkan organisasi dakwah mestilah sesuai dengan thoriqoh dakwah Rasulullah SAW; (3) sejalan dengan dakwah, maka sifat keanggotaannya pun haruslah terbuka hanya bagi umat Islam; dan (4) ikatan antar anggota haruslah dibangun atas  dasar mabda Islam.
2. STRATEGI INDUK DAN  ORIENTASI MANAJEMEN SYARIAH PADA ORGANISASI

Keberadaan dan sekaligus performansi organisasi sangat lekat dan identik dengan strategi induknya, yakni visi, misi dan  tujuan. Karena itu, penerapan syariah dalam perspektif perencanaan strategis  nampak jelas pada  isi strategi induk ini.   Strategi Induk merupakan rencana strategis untuk melihat sisi organisasi  kita 5, 10 atau 20 tahun (lazimnya untuk 5 tahun) mendatang.  Berpikir strategis akan membawa cakrawala atau wawasan jauh ke depan dan tidak terjebak pada suasana hari ini atau hari kemarin.  Rencana jangka panjang ini sangat diperlukan sebagai barometer atau penunjuk arah aksi organisasi yang dikaitkan dengan kemampuan serta peluang yang ada.
Visi adalah cara pandang yang menyeluruh dan futuristik terhadap keberadaan organisasi. Misi merupakan pernyataan  yang menjelaskan alasan pokok berdirinya organisasi dan membantu mengesahkan  fungsinya dalam masyarakat atau lingkungan. Sementara, tujuan  adalah akhir perjalanan yang dicari organisasi untuk dicapai melalui eksistensi dan operasinya serta merupakan sasaran yang lebih nyata dari pada pernyataan misi.
Turunan berikutnya dari strategi induk adalah penetapan tolok ukur strategis dan operasional bagi perjalanan organisasi. Tolok ukur strategis lebih bersifat kualitatif dan bersandarkan pada nilai-nilai yang dianut organisasi.  Sementara, tolok ukur operasional  lebih bersifat kuantitatif dan didasarkan atas kesepakatan hasil perhitungan dan analisis bersama dalam menjalankan aktivitas organisasi.
Bagi organisasi dakwah kita, berdasarkan syariah, maka  visi, misi dan tujuan suatu organisasi hendaknya menggambarkan orientasi manajemen yang berbasis syariah. Karena itu, maka visi organisasi dakwah adalah menjadikan organisasi sebagai wahana dakwah bagi  para pengelolanya dalam meraih keridloan Allah SWT.  Misi dan tujuannya bahwa keberadaan organisasi tidak lain adalah untuk mewujudkan SDM yang memiliki kematangan keperibadian (syakhsiyyah) Islam, melalui pola fikir dan pola sikap yang Islami, serta untuk menyeru umat agar bangkit untuk kembali   ke haribaan kehidupan Islami.
Atas dasar syariah pula, maka tolok ukur strategis bagi aktivitas organisasi adalah syariah itu sendiri. Hal ini sebagaimana kaidah ushul  yang menyatakan “al aslu fil af’al attaqoyyadu bil hukmisy syar’i”, yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara yang lima, yakni  wajib, sunah, mubah, makruh atau haram.
Adapun tolok ukur operasional – sesuai dengan sifatnya, maka disepakati sesuai dengan kebutuhan organisasi yang berkaitan dengan teknis penyelenggaraan kegiatan-kegiatannya. Tolok ukur tersebut dapat diformulasikan  sebagai SMART, yakni bahwa sebuah program/kegiatan haruslah Specific (bersifat unique, khas), Measurable (dapat diukur/kuantitatif), Attainable (dapat dicapai), Realistic (realistis), dan Timely basis (berorientasi waktu).
Strategi induk sebagaimana tersebut di atas akan meluruskan  orientasi manajemen yang bervisi sekuler agar sejalan dengan visi dan misi penciptaan  manusia, terlebih bila ia adalah organisasi dakwah.
3.  TIGA ASPEK PENTING DALAM PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian   mengandung pengertian sebagai proses penetapan struktur peran-peran melalui penentuan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dan bagian-bagiannya, pengelompokkan  aktivitas-aktivitas, penugasan kelompok-kelompok aktivitas kepada manajer-manajer, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi, baik horisontal maupun vertikal dalam struktur organisasi.  Agar keberadaan organisasi menjadi berarti bagi SDM internalnya dan juga masyarakat di lingkungannya, maka peran organisasi haruslah mencakup tiga hal berikut. Pertama, harus memiliki tujuan  yang dapat dibuktikan. Kedua,  konsep  kewenangan beserta aktivitas yang terlibat  harus jelas. Ketiga, memiliki  batasan  kebijakan organisasi yang jelas dan dapat dimengerti oleh seluruh SDM-nya. Pada tataran implementasinya, ketiga hal tersebut  tercermin pada aspek struktur,  tugas dan wewenang serta hubungan anggota. 3.1.  Aspek  Struktur
Implementasi syariah pada aspek ini terutama pada alokasi SDM yang berkorelasi dengan  faktor profesionalisme serta aqad (perjanjian) pekerjaan/tugas.
Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional.  Dalam buku Program Peningkatan Kontrol Diri, SEM Institute (2000), dinyatakan bahwa Profesionalime  menurut pandangan Islam dicirikan oleh  tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya  keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab  dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.
Untuk mewujudkan SDM muslim yang professional dalam organisasi dakwah kita,  Islam telah memberikan tuntunan yang yang sangat jelas. Kafa’ah atau keahlian dan kecakapan  diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman; (2) Himmatu al-‘amal atau  etos kerja yang tinggi  diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama di samping motivasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); serta (3)  Amanah atau  sifat terpercaya dan bertanggungjawab  diperoleh dengan menjadikan tauhid sebagai unsur pendorong dan pengontrol utama tingkah laku.
3.2.    Aspek Tugas dan Wewenang
Implementasi syariah pada aspek ini terutama ditekankan pada  kejelasan tugas dan wewenang masing-masing bidang  yang diterima oleh para SDM pelaksana berdasarkan kesanggupan dan kemampuan  masing-masing sesuai dengan aqad pekerjaan tersebut.

3.3.    Aspek Hubungan Anggota
Implementasi syariah pada aspek ini dapat dilihat pada penetapan budaya organisasi bahwa setiap interaksi antar SDM adalah  hubungan muamalah yang  selalu mengacu pada amar ma’ruf dan nahi munkar.
Interaksi antar anggota organisasi haruslah terjaga dalam suasana kebersamaan team (together everyone achieve more). Hal ini dimaksudkan agar  tetap kondusif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Suatu tim  dimana seluruh anggotanya bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai thinking-afkar (ide/pemikiran), feeling-masyair (perasaan) dan rule of game-nidzam (aturan bermain). Tentu saja  interaksi yang terjadi berada dalam koridor amar ma’ruf dan nahi munkar.

Guna memastikan bahwa tujuan organisasi di semua tingkat dan rencana yang didesain untuk mencapainya, sedang dilaksanakan dan terjaga harmoninya, maka. dibutuhkan tiga pilar harmoni organisasi, yaitu:
•    Ketaqwaan individu.
Seluruh personel SDM organisasi dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.
•    Kontrol anggota.
Dengan suasana organisasi yang  mencerminkan formula TEAM, maka  proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.
•    Penerapan (supremasi) aturan.
Organisasi  ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta – tentu saja – tidak bertentangan dengan syariah.

4.  APLIKASI PRAKTIS MANAJEMEN ORGANISASI DAKWAH

Dakwah memang menyeru, mengajak dengan omongan.  Bukan hanya bicara di atas mimbar, tapi bisa juga dengan ngobrol dengan teman sebangku di kelas, di kantin, di angkot (angkutan kota, Red.) lalu menulis di majalah dsb.  Namun begitu, uslub (cara) seperti ini juga perlu ditunjang dengan uswah (teladan).  Artinya tidak cukup sekedar mengajak, tetapi akhlak pun harus sesuai dengan Islam. 

Berdakwah agar efisien dan efektif juga mesti memperhatikan ketersediaan bahan dakwah - sejauh mana pemahamannya terhadap Islam, medan dakwah di mana ia tinggal serta skill (bukan sikil, red) yang dipunyai seperti kemampuan komunikasi, analisis kondisi lingkungan dsb. Berdakwah secara team (together everyone achieve more) dengan manajemen yang oke akan lebih  efisien dan efektif dalam mencapai tujuan dakwah dibandingkan jika hanya berdakwah secara individual. Ringkasnya, bersama-sama dengan hamiluddakwah lainnya dalam organisasi dakwah melakukan:
·  Prakondisi perencanaan, meliputi pengenalan medan dakwah melalui analisis kondisi lingkungan.
·  Perumusan perencanaan, meliputi: penetapan tujuan-tujuan jangka pendek dalam rangka pencapaian tujuan jangka panjang yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam di tengah-tengah umat; penetapan sasaran-sasaran atau objek dakwah serta penentuan tolok ukur keberhasilan dakwah.
·  Implementasi, mencakup pembagian tugas, pembekalan materi yang diperlukan serta melakukan pertemuan-pertemuan rutin pra-action (briefing).  Dan setelah semuanya oke, tunggu apalagi?  Action!
·  Evaluasi dan umpan balik.  Untuk melihat dampak dakwah yang telah dilakukan, perlu selalu dievaluasi dengan mengacu kepada tolok ukur, baik yang bersifat strategis (QS. Al Mulk: 2-3) maupun yang bersifat operasional terukur.


Serulah  (manusia) ke jalan Tuhanmu (Islam) dengan hikmah dan 
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
QS. An Nahl: 125
Awal abad 20 menandakan sebuah perkembangan yg cukup menarik tentang pembaruan Islam di Indonesia. Berdirinya organisasi keislaman seperti Persis dgn tokohnya A. Hassan Isa Anshari M. Natsir dkk. Al-Irsyad Al-Islamiyyah dgn pendirinya Syaikh Ahmad As-Surkati dan Muhammadiyah dgn pendirinya KH. Ahmad Dahlan membawa misi secara serempak tentang perlunya tajdid dalam substansinya yg paling dalam adalah kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta memerangi segala bentuk syirik bid’ah khurafat dan takhyul. Hal ini bukanlah suatu kebetulan sejarah sebab proses yg mendahuluinya adl adanya sebuah wacana umum kebangkitan Islam yg dipicu oleh tokoh-tokoh yg menyerukan Pan Islamisme semisal Jalaluddin Al-Afghani Syaikh M. Rasyid Ridha dll. sebagai respon alami terhadap keterbelakangan kejumudan dan kebodohan secara spiritual sosial politik dan budaya yg melanda kaum Muslimin. Puncaknya adl runtuhnya Daulah Utsmaniyah sebagai representasi dari sebuah khilafah Islamiyah yg diakui kaum Muslimin di masa Sultan Abdul Hamid II oleh seorang agen Yahudi bernama Mustafa Kemal Attaturk. Seiring dgn itu mulai masuknya kitab-kitab referensi penting ke tanah air melalui para hujjaj yg berasal dari tanah air seperti “Subulus Salam” karya Syaikh Ash-Shan’any dari Yaman “Irsyadul Fuhul” karya Imam Asy-Syaukany dll. Oleh sebagian kalangan pemikiran pembaruan itu lalu dicap sebagai Gerakan Wahabi . Sayangnya cap Wahabi di sebagian kalangan cukup berhasil sehingga mematahkan upaya-upaya komunikasi dan dialog secara lbh sehat dan ilmiah serta jauh dari politicing fitnah dan tuduhan tanpa bukti; dalam waktu yg cukup lama. Upaya pembaruan ini cukup berhasil dgn berdirinya berbagai sekolah-sekolah dan pranata sosial lainnya hingga pada momentum yg cukup mengesankan adl berdirinya kekuatan politik umat Islam Indonesia bernama Masyumi yg dimotori oleh tokoh-tokoh pembaru. Jika kemudian terjadi preseden buruk dgn dibubarkannya Masyumi oleh presiden Soekarno di tahun 1951 hal itu tidak bisa meruntuhkan begitu saja militansi mereka utk menyebarkan gagasan-gagasan Islam tentang visi kehidupan secara menyeluruh melalui gerakan dakwah pendidikan dan sosial di masa-masa selanjutnya. Justru sebaliknya terdapat suatu opini yg jamak diketahui oleh para pemerhati problematika umat Islam yg jujur bahwa Indonesia meskipun mayoritas muslim bahkan sebagai negara terbesar yg berpenduduk muslim tapi secara politik sosial ekonomi dan kultural masih didominasi oleh wacana-wacana sekuler dan nasionalisme yg sangat kontra produktif dgn Islam. Oleh krn itu proses penyadaran pemahaman dan pemberdayaan harus terus digalang oleh tidak saja oleh segenap institusi umat Islam tapi juga oleh semua kekuatan elemen umat melalui gerakan dakwah yg merupakan ajakan-ajakan sistematis dan terencana dgn obyek manusia secara umum agar beraqidah tauhid yg lurus dan murni beribadah yg benar dan berakhlaq yg mulia. Dari sini muncul sebuah problem praksis bagaimanakah roda dakwah mesti digulirkan ? Kenyataannya bahwa sebagian du’at lbh mendahulukan aspek syi’ar daripada substansi Islam berupa aqidah yg benar. Tanpa mengurangi makna totalitas Islam dakwah tetap butuh pada prioritas . Merujuk pada kehidupan dakwah Rasulullah SAW. pada periode Makkah dimana beliau melakukan pembenahan aqidah secara simultan dgn menekankan keharusan mengesakan Allah dan menjauhi segala indikasi penyekutuan terhadap-Nya. Karenanya perbaikan umat kemarin sekarang dan akan datang harus diupayakan berda di jalan ini. Sebab kita tidak butuh seorang yg melek budaya Islam atau ‘melek’ politik Islam tetapi tidak mengerti aqidah yg lurus dan cara beribadah yg benar. Problematika Dakwah di Indonesia Tantangan dalam prespektif kehidupan sejatinya mengasah kecerdasan dan kreatifitas manusia utk menyelesaikannya dan merubahnya menjadi harapan. Dalam konteks Indonesia problematika yg menyangkut dakwah akan selalu ada selama denyut nadi umat Islam masih berdetak. Tantangan kristenisasi kebodohan maraknya kelompok-kelompok yg mengaku menyuarakan Islam disharmoni dgn pemerintah setempat ataupun policy nasional kebebasan pers dan media massa yg tidak terkendali dan bertanggung jawab dsb adl wacana-wacana eksternal dalam problematika dakwah. Dalam kasus internal profesionalisme da’i dalam pengertian yg seluas-luasnya masih menjadi keluhan mendasar. Karena da’i sebagai agent of change harus mempunyai visi yg jelas tidak saja menyangkut wawasan Islam yg utuh tapi juga visi menyeluruh Islam tentang politik ekonomi sosial dan budaya dalam mengarahkan umat Islam kepada suatu tatanan yg lbh mapan establish maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain. Misi Islam tidak saja agar Islam menjadi sebuah keniscayaan nilai yg terimplementasikan dalam kehidupan menyeluruh umat manusia. Ia adl sebuah wacana praksis yg meskipun tidak bisa dipaksakan kepada manusia akan tetapi hanya dgn itulah keadilan dalam maknanya yg paling luas dan dalam dapat terlaksana; dalam sebuah kekhilafahan yg berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sepintas hal diatas terlalu diatas awang-awang dan “bagaikan pungguk merindukan bulan”. Tapi sesungguhnya ia tidak seperti impian cinta Romeo kepada Juliet yg dibuat oleh Shakespeare -akhirnya- tak tersampaikan. Ia adl sebuah cita-cita adiluhung sekaligus merupakan kewajiban dan amanah yg diemban oleh tiap individu muslim. Setiap upaya ishlah hendaknya tidak diupayakan secara tambal sulam tapi merupakan episode-episode yg berurutan dan tak mengenal henti hingga visi rahmatan lil ‘alamin menjadi payung bagi peradaban kemanusiaan secara universal. Paragraf ini hendak menekankan bahwa kemunduran umat Islam di akhir Abad Pertengahan dicirikan dgn hilangnya tradisi belajar dan semangat spiritualis kaum Muslimin. Terdapat cukup bukti dalam sejarah bahwa maraknya perkembangan pemikiran-pemikiran dan pemahaman yg destruktif terhadap Islam turut mengambil peran bagi keruntuhan peradabannya. Ini adl sebuah kenyataan kompleks dimana semangat keislaman yg kaffah menjadi merosot tradisi belajar yg hilang pemahaman aqidah yg rancu upaya-upaya destruktif musuh-musuh Islam pertikaian-pertikaian internal yg tak kunjung padam dan runtuhnya sendi-sendi amar ma’ruf nahi mungkar merupakan sebab-sebab utama dari keruntuhan peradaban umat Islam. Oleh krn itu bukanlah sebuah penyederhanaan masalah jika dalam memulai sebuah “penyusunan kekuatan” umat Islam harus merebut kembali tradisi belajarnya yg belum pernah dikenal dalam sejarah kemanusiaan sebelum dan sesudah mereka. Adalah Jabir bin Abdullah Al-Anshari yg menempuh perjalanan sebulan utk menemui Abdullah bin Unas Al-Juhani “hanya” utk mendapatkan sebuah hadits sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari. Pun pesan perdana yg diperintahkan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. dan umatnya adl “membaca” dalam pengertian yg seluas-luasnya. Hanya dgn usaha yg sungguh-sungguh aqidah yg benar dan pengetahuan yg luas sebuah “rennaisance” umat Islam menjadi niscaya. Lebih lanjut “Masa depan kaum Muslim akan lbh banyak ditentukan oleh perencanaan yg hati-hati dan langkah-langkah konkret bukan oleh keindahan rumusan dan kegairahan memberikan nasihat-nasihat moral. Lembaga-lembaga belajar dan intelektual Muslim harus berdiri di barisan terdepan dalam mengampanyekan reformasi sosial dan ekonomi di seluruh dunia Islam.” Adalah kenyataan bahwa Barat menaklukkan negeri-negeri Islam setelah melewati proses mempelajari menelaah mengetahui lalu menguasai. Dalam sebuah kuliahnya di Kalkutta pada 1882 Jamaluddin Al-Afghani menegaskan “Kini para imperialis Eropa itu sudah menancapkan kuku mereka di seluruh penjuru dunia. Orang-orang Inggris sudah sampai di Afghanistan; sedangkan orang-orang Prancis sudah menduduki Tunisia. Penjajahan penyerangan dan penaklukan ini dalam kenyataannya bukanlah berasal dari orang-orang Inggris atau Perancis. Itu merupakan ilmu pengetahuan yg dimana-mana memanifestasikan kebesaran dan kekuatannya.” Musibah terbesar yg menimpa dunia ilmu pengetahuan Islam adl adanya dikotomi sekular yg intinya adl pemisahan ilmu-ilmu agama dan ilmu non agama yg kemudian memisahkan antara ajaran agama yg bersifat mahdhah dan tuntunan Islam yg utuh tentang kehidupan; hal yg tidak pernah dikenal oleh kaum Muslimin generasi sebelumnya. Dikotomi ini tidak saja bertentangan dgn pesan integral Al-Qur’an tetapi juga kenyataan bahwa cendekiawan-cendekiawan Islam Abad Pertengahan adl meminjam istilah Ibnu Khaldun- para mutafannin . Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tidak saja seorang alim dalam berbagai ilmu Islam tapi juga seorang pujangga kenamaan yg melahirkan karya-karya brilian. Kemudian berderetlah nama-nama seperti Ibnu Rusyd Al-Biruni Al-Farabi dll. Karenanya semua disiplin ilmu yg ditekuni secara spesialis oleh para pelajar dan mahasiswa tidak bisa dilepaskan bahkan harus sejalan dgn ajaran Islam. Agar semua capaian-capaian ilmu dan teknologi membawa kemaslahatan dan kedamaian di muka bumi dan bukan justru kontra produktif bagi kehidupan manusia. Bagi umat Islam Indonesia hal di atas tampaknya masih seperti kereta yg baru saja meninggalkan stasiun. Urgensi Kaderisasi Dakwah Merujuk pada profesionalisme da’i upaya utk meningkatkan kualitas da’i harus terus ditumbuhsuburkan. Maraknya training pelatihan-pelatihan da’i yg diselenggarakan oleh berbagai organisasi dakwah tidak saja dalam bingkai diatas tapi juga dalam rangka menyatukan rentak dan langkah para du’at. Di samping itu para du’at dituntut utk memperbarui keikhlasan mereka agar dapat melahirkan ketekunan dan kesungguhan yg tak lekang oleh panas. Harus dipahami bahwa kewajiban dakwah bukanlah sebuah pekerjaan sambil lalu tapi merupakan kewajiban atas tiap muslim . Karenanya tiap muslim -apapun profesinya- adl juga da’i yg dituntut utk menyampaikan misi Islam seluas-luasnya sesuai dgn kemampuan. Memahami dakwah hanya sebatas ceramah dan khutbah saja adl sebuah preseden buruk bagi masa depan dakwah. Karena itu kaderisasi da’i melalui individu institusi keluarga di mana orang tua menjadi sokoguru institusi-institusi dakwah media massa dll harus terus disemarakkan sehingga masalah mandeknya proses belajar mengajar di sebuah TPA krn ketiadaan tenaga pengajar tidak lagi terdengar. Fajar Sedang Menyingsing Di balik capaian-capaian dakwah yg cukup mengesankan mulai awal dekade 80-an dgn berbagai variabelnya dalam bentuk intensitas pengamalan Islam yg menguat tidak boleh melenakan kita dari kenyataan yg sangat menyeramkan tentang degradasi moral yg berlangsung secara sangat sistemik dan dinamis melalui berbagai alat penyebaran informasi. Bukan satu kebetulan jika membanjirnya film-film pornografi seiring dgn turunnya harga barang-barang elektronik. Pada saat yg sama narkoba menjadi suatu kenyataan yg biasa-biasa saja. Untuk generasi muda Islam saat ini sebagai akibat logis adl munculnya sebuah wajah generasi muda yg kabur akan identitas dan tujuan hidup dgn mentalitas lemah dan keropos. Jika kemudian kantong-kantong mayoritas muslim menjadi ladang pembantaian oleh kaum kafir di masa yg akan datang itu adl sebuah kelumrahan jika umat Islam tidak segera berbenah diri. Walau demikian Islam mengajarkan optimisme utk berjuang dgn niat yg ikhlash tekad membaja dan perjuangan yg sungguh-sungguh tak kenal lelah. Seorang muslim dalam persfektif Islam dituntut utk “menjual” dirinya dan hartanya dalam bentuk beriman pada Allah SWT. dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dgn harta dan dirinya dgn imbalan ampunan keni’matan sorga pertolongan Allah dan kemenangan yg dekat waktunya . Ulama cendekiawan dan tiap muslim yg memiliki kesadaran akan nasib umat Islam tidak bisa tinggal diam dan terus “sakit gigi” menyaksikan kenyataan memilukan ini “Jika kita masih ingin mendengar kumandang adzan dari masjid di dekat rumah kita.” . Catatan akhir
Baca Sejarah Umat Islam Josuf Syo’ub bagian akhir dari Bab Sejarah Daulah Turki Utsmaniyah.
A. Hassan Wajah dan Wijhah Seorang Mujtahid Syafiq A. Mughni.
Lebih lanjut baca Fiqh Prioritas Dr. Yusuf Al-Qardhawi.
Kutubus Sittah Dr. Muhammad M. Abu Syuhbah terbitan Pustaka Progresif.
Anwar Ibrahim Renaisans Asia hal. 128-129.
Sebuah sistem informasi manajemen (SIM) adalah sebuah sistem informasi yang selain melakukan semua pengolahan transaksi yang perlu untuk sebuah organisasi, juga memberi dukungan informasi dan pengolahan untuk fungsi manajemen dan pengambilan keputusan. Sistem informasi yang demikian itu telah ada sebelum munculnya komputer. komputer telah menambahkan sebuah teknologi baru dan ampuh pada sistem informasi.Karena itulah, materi pada mata kuliah SIM-MD salah satunya adalah Evolusi Konsep SIM dan Komputerisasi Sistem Informasi Manajemen, yang akan dibahas dalam makalah ini.

A. Evolusi Perkembangan Konsep SIM
Gagasan sebuah sistem informasi untuk mendukung manajemen dan pengambilan keputusan telah ada sebelum dipakainya komputer, yang memperluas kemampuan keorganisasian untu menerapkan sistem semacam itu.
Banyak dari gagasan yang merupakan bagian SIM berkembang atau berevolusi dari bagian ilmu pengetahuan lain. Ada empat bidang pokok konsep dan pengembangan sistem yang sangat penting dalam melacak asal mula konsep SIM:

1. Perukunan Manajerial
2. Ilmu pengetahuan Manajemen
3. Teori Manajemen, dan
4. Pengolahan Komputer
Sistem pelaporan untuk oraganisasi yang dikembangkan oleh perukunan manajerial pada umumnya mencerminkan gagasan perukunan tanggungjawab (Responsibility Accounting) dan perukunan mampulaba (Profitibility Accounting). Dalam ancang-ancang ini setiap manajer menerima laporan dalam lingkup tanggungjawabnya. Laporan-laporan dari tingkat bawah digabung untuk memberikan ikhtisar laporan tingkat manajemen berikutnya, dan seterusnya.

Ilmu pengetahuan manajemen adalah sebuah perkembangan penting dalam sistem informasi manajemen yang berdasarkan komputer, karena ilmu pengetahuan manajemen telah mengembangkan prosedur-prosedur untuk analisis dan pemecahan berdasarkan komputer dalam banyak jenis persoalan keputusan.
Teknologi komputer merupakan faktor penting dalam perkembangan SIM. Tanpa kemampuan komputer, konsep sebuah SIM tidak dapat diwujudkan.
Dalam memahami evolusi konsep SIM, perkembangan terakhir dalam teori manajemen cukup pesat. Bila dalam ilmu pengetahuan manajemen perkembangannya menekankan optimisasi sebagai tujuan, maka teori manajemen menekankan pemuasan (Yaitu mencapai pemecahan yang memuaskan) dan mempertimbangkan keterbatasan manusia dalam mencari pemecahan.
B. Komputerisasi Sistem Informasi Manajemen

a. Perkembangan Komputer Dari Masa ke Masa
Istilah komputer atau dalam bahasa Inggris “Computer” bersumber dari kata “Computere” yang secara harfiah berarti “ Menghitung” atau “Memperhitungkan.
Menurut para ahli, program penyelidikan ruang angkasa yang dilakukan oleh Negara-Negara Super Power, tak mungkin dilaksanakan tanpa komputer.
Berdasarkan sejarah komputer, manusia pertama yang menciptakan komputer adalah Charles Babbage, seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris, ketika pada tahun 1833 menampilkan mesin komputer yang dinamakan “General Purpose Digital Computer “.
Sejak Charles Babbage meninggal pada tahun 1871, tidak terdapat kemajuan berarti dalam hal komputer ini. Baru pada tahun 1937 Prof. Howard Aiken dari University Harvard mencoba membangun mesin “Automatic Calculating” dan selesai tahun 1944 dengan diberi nama Mark1.
Dalam perkembangannya, komputer secara elektronik penuh mengalami beberapa generasi, yakni :

1. Generasi Pertama (1945-1959)
Pada tahun 1945 itu adalah tampilnya mesin komputer yang diberi nama ENIAC ( Electronic Numerical Integrator and Calculator) yang merupakan “General Purpose Computer” atau komputer untuk segala tujuan, yang keseluruhannya dijalankan secara elektronik. Yang menciptakannya adalah Prof. John W. Mauchly dan Prosper Eckert dari University Pensylvania dengan menggunakan fasilitas dari Moore School Of Electrical Engineering.
Pada tahun ke tahun mesin komputer ini terus-menerus berkembang sehingga sejumlah perusahaan dapat menciptakan berbagai merk, IBM terkenal dengan Mark Computer Seriesnya, Burrough dengan Magnetic Drum Computer Type E 101 dll. Mesin-mesin komputer yang termasuk generasi pertama itu terus dikembangkan sampai muncul kelompok mesin komputer generasi berikutnya.

2. Generasi Ke Dua (1959-1965)
Generasi ke dua ini menimbulkan banyak keuntungan pada pihak pemakai, antara lain karena mesin-mesin tersebut lebih kecil sehingga menjadi lebih ringan, semakin tinggi daya ingatnya, semakin cepat proses pengolahan datanya, semakin besar daya tampungnya dan yang paling penting semakin tinggi daya kemampuannya untuk memecahkan permasalahan yang rumit-rumit.
Kemajuan yang dapat dicatat dalam perkembangan komputer generasi yang ke dua ini ialah diciptakannya oleh Control Data Corporation (CDC) yaitu sebuah mesin komputer dengan model 6600 Super Computer yang dapat menyelesaikan tiga juta operasi per tiga detik. Berikutnya Model 7600 dengan bentuk yang lebih besar yang bisa melaksanakan dua puluh lima juta operasi per detik.

3. Generasi Ke Tiga (1965-Sekarang)
Penggunaan peralatan elektronik yang baru ini menyebabkan timbulnya keuntungan baru bagi para pemakai dalam hal kapasitasnya, fasilitas programnya semakin lengkap, kemampuannya dalam programming dan processing secara ganda dalam waktu yang sama. Dalam hal jumlah tenaga manusia lebih sedikit, tidak terbatasnya instruksi-instruksi dan kecepatannya yang luar biasa.

b. Komputerisasi di Indonesia
Indonesia pertama kali mengenal komputer pada tahun 1956 pada waktu itu Bank Sentral Indonesia membeli sebuah komputer merk Unival System 1004 buatan Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1964 didatangkan komputer untuk keperluan TNI angkatan darat di Bandung, 3 tahun kemudian untuk ITB sebagai perguruan tinggi pertama yang mempergunakan komputer dengan jenis yang sama yaitu IBM System 1401.
Pada tahun 1977 ada 11 lembaga pemerintah yang mulai menggunakan lebih dari 1 unit komputer. Yang paling banyak menggunakan komputer adalah Pertamina, PLN, BI, Garuda Indonesia, Airways, PN Pupuk Sriwijaya, dan Perum Telkom.Bersamaan dengan meningkatnya jumlah instansi komputer di Indonesia dewasa ini telah banyak yang mendirikan “Software Companies”. Perusahaan ini dalam proses komputerisasinya memegang peranan yang penting, karena perusahaan inilah yang melakukan study kelayakan pengembangan informasi dan penilaian sistem informasi.

c. Beberapa Alternatif Komputerisasi
• Memiliki sendiri
• Menyewa
• Mengadakan Bagi Waktu
• Membeli Jasa “Pusat Data”

Sumber : http://www.geocities.com/agus_lecturer/sim/sim_dan_komputer.htm
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam perkembangan sistem informasi manajemen dan komputerisasi :

1. Perkembangan Sistem Informasi Manajemen
Berkembangnya organisasi akan di ikuti dengan berkembangnya pula kebutuhan akan informasi pada tiap level manajemen. Sehingga kebutuhan koordinasi dan komunikasi juga meningkat. Ketika sistem informasi telah dibuat, kebiasan pelaporan formal, setengah formal bahkan yang informal dapat distandarisasikan. Arus informasi akan diatur berdasar tingkatan pemakainya. Kriteria bagi sistem informasi manajemen yang tepat adalah sistem tersebut dapat memberikan data yang cermat, tepat waktu dan penting artinya bagi perencanaan, analisis dan pengendalian manajemen untuk mnegoptimalkan pertumbuhan perusahaan.

2. Penggunaan Sistem Informasi Manajemen
Banyak interface antara sektor publik dan sektor privat telah meningkat menurut ilmu ukur. Pengalaman dalam teknik pengambilan keputusan menuntut digunakannya komputer dalam ukuran besar dan perlengakapan pengolah data. Kebutuhan akan sistem informasi manajemen dapat dilukiskan sebagai suatu hirarki. Pada tingkatan paling bawah adalah sistem informasi yang berhubungan dengan pengolah data. Tingkatan kedua adalah kebutuhan sistem yang dapat menyebarkan informasi ke pusat pengambilan keputusan. Tingkatan ketiga adalah adanya unsur tambahan dari teknik pengambilan keputusan statistis dan matematis yang digabung dengan sistem informasi berkembang. Tingkatan keempat adalah adanya sistem yang saling mempengaruhi yang sering disebut dengan sistem manusia-mesin. Tingkatan kelima adalah adanya pengalihan tanggungjawan pengambilan keputusan dari manusia ke sistem informasi keputusan.

3. Unsur-Unsur Sistem Informasi Manajemen Yang Efektif
Paling tidak memenuhi dan dapat menjawab pertanyaan berikut :
1. Data atau informasi apa yang dibutuhkan
2. Kapan data atau informasi itu diperlukan
3. Siapa yang memerlukan
4. Dimana data atau informasi itu diperlukan
5. Dalam bentuk apa data tersebut
6. Berapa dana yang diperlukan
7. Prioritas data
8. Mekanisme perolehan data
9. Kontrol umpan balik data
10. Mekanisme perbaikan sistem data

4. Penggunaan Komputer Dalam Sistem Informasi Komputer
Komputer dapat dirumuskan sebagai suatu perlengkapan elektronik yang mengolah data, mampu menerima masukan dan keluaran, dan mempunyai sifat seperti kecepatan yang tinggi, ketelitian, dan kemampuan menyimpan instruksi untuk memecahkan masalah. Komputer tidak dapat memulai berpikir, membetulkan kesalahan sendiri atau melakukan pengolahan yang bersifat kreatif. Akan tetapi penemuan kesalahan yang sifatnya rutin dapat diprogramkan kedalam komputer sehingga komputer tersebut dapat memberikan peringatan kepada operatornya mengenai kesalahan yang terjadi dan sedang berjalan. Komputer yang biasa digunakan dalam sistem informasi manajemen adalah komputr digital. Sedang komputr analog digunakan untuk mengolah data yang sifatnya terus-menerus.
Dari beberapa hal yang dijelaskan diatas, maka Sistem Informasi Manajemen pada saat ini sudah banyak digunakan dan diterapkan pada berbagai organisasi sesuai dengan kebutuhan. Dan sudah banyak dimanfaatkan diberbagai bidang, baik bidang ekonomi, industri, maupun pendidikan. Salah satu penerapan Sistem Informasi Manajemen yaitu di bidang Pendidikan dengan adanya Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS) yang telah banyak digunakan di beberapa sekolah dan terus dikembangkan.

PERENCANAAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI TERPADU SEKOLAH (SITS)
UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
Sumber awal : http://media.diknas.go.id/media/document/4430.pdf (disusun oleh : Suryadi), dan dari beberapa sumber/referensi pendukung.
A. LATAR BELAKANG
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang eksponensial, munculnya format-format baru kemasan informasi, online access serta arus informasi yang telah membawa konsekwensi luas bagi perpustakaan era ini serta menciptakan kebutuhan layanan yang kompetitif, layanan yang serba cepat, simple serta memberikan banyak alternatif. Dinas Pendidikan (Diknas) mengembangkan sistem informasi sekolah terpadu dalam pelaporan data pendidikan dari sekolah. Hal ini merupakan langkah terobosan untuk mempermudah pelaporan, akses, dan pembaruan data dari sekolah. Pada jaman era globalisasi dan perdagangan bebas yang akan segera diterapkan, sumberdaya manusia yang berkualitas menjadi syarat pokok untuk dapat bersaing. Dan untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang berkualitas, lembaga Pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dijaman era globalisasi dan Perdagangan Bebas. Untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas memerlukan suatu sistem pelayanan pendidikan yang berkualitas dan untuk itu semua pihak baik Pemerintah, Pemerintah daerah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan Masyarakat sekolah (stake holder ) harus bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berdasarka peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Khususnya Standar Sarana dan Prasarana pasal 46 ayat (1) menjelaskan bahwa “ satuan pendidikan yang memiliki peserta didik, pendidik, dan/atau tenaga kependidikan yang memerlukan layanan khusus, wajib menyediakan akses ke sarana prasarana yang sesuai dengan kebutuhan mereka” Untuk itu sekolah harus dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa dan orang tua siswa seperti orang tua siswa/ wali murid dan siswa harus mendapatkan informasi tentang perkembangan (proses belajar mengajar) siswa secara cepat, tepat dan akurat. Semakin cepat informasi sampai kepada orang tua atau walimurid dan siswa, maka akan semakin cepat juga perbaikan mutu (koreksi) pendidikan siswa. Untuk dapat memberikan informasi secara cepat, tepat dan akurat, sekolah memerlukan sebuah sistem informasi terpadu manajemen sekolah yang berkualitas. Dan untuk mendapatkan sistem yang terintegrasi seperti itu tidaklah cukup kalau dilakukan secara manual. Pembangunan suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) berbasis komputer adalah solusi yang paling tepat.
B. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI TERPADU SEKOLAH (SITS)
Sistem informasi terpadu disebut juga Geografic Information System (GIS). Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Dalam suatu organisasi Sekolah, administrasi merupakan tulang punggung prosedur operasional yang dilaksanakan. Administrasi dalam kegiatan operasional suatu organisasi Sekolah selalu terkait dengan 2 hal, yaitu : legalitas danneffisiensi. Keberadaan Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS) merupakan salah satu bentuk kontribusi informasi teknologi yang diberikan kepada masyarakat khususnya dunia pendidikan. Sistem Informasi Terpadu yang layak digunakan untuk diterapkan didunia pendidikan adalah Sistem Informasi yang harus memperhatikan beberapa aspek seperti aspek teknologi, biaya implementasi, sumber daya dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan jaman. Sistem Informasi yang tambal sulam dan sudah tidak dapat diabaikan dan perlu segera dilakukan otomatis secara menyeluruh. Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS) suatu usaha untuk meningkatkan keberhasilan penerapan Sistem Informasi di Sekolah bergantung dari komitmen seluruh personil yang ada didalam manajemen sekolah, dan untuk itu akan melibatkan sekolah dalam pembuatan sistem informasi manajemen tersebut sehingga Sistem Informasi Manajemen tersebut akan sesuai dengan kondisi kebutuhan aplikasi Sistem Informasi Terpadu Manjemen Sekolah (SITS) yang dikembangkan secara bertahap. Lingkup palayanan perencanaan yang dilaksanakan dalam implementasi SITS di sekolah antara lain :

- Survey ( User Requitment)
- Alokasi staff dan aktivitas
- Pembuatan Master Plan
- Konsultasi dalam hal penerapan Sistem Informasi Terpadu Sekolah
- Pelatihan kepada user
- Supervisi (pendampingan) dalam Implementasikan sistem Informasi Sekolah
- Maintenance (pemeliharaan)
C. KEUNGGULAN SISTEM INFORMASI TERPADU SEKOLAH (SITS)

Sistem Informasi Terpadu Sekolah dirancang agar dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi secara maksimal. Sistem yang akan dibangun tentu saja didasarkan atas pengelolaan dokumen secara elektronik. Secara umum sistem harus mampu menangani semua permasalahan surat masuk dan keluar, baik yang bersifat eksternal maupun internal. Fungsi dari sistem ini adalah :
- Memudahkan seluruh staf administrasi dalam pengelolaan surat diseluruh bagian institusi sehingga
menjamin tertib administrasi
- Menyediakan akses secepatnya dari mana saja bagi semua pejabat dan staf yang akan mengirim ataupun
merespon surat yang ditujukan padanya.
- Menyediakan sistem pengarsipan terpadu sehingga memudahkan penelusuran surat (tracking), dan monitoring.
- Memberikan fasilitas dalam pembuatan laporan pengelolaan surat.
Keunggulan yang dimiliki oleh Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS)adalah sebagai berikut :

I. Arsitektur
1. Tumbuh dan berkembang SITS mengunakan arsitektur berbasis obyek (OPP) yang
mengganggap setiap entitas adalah obyek sehingga penambahan setiap obyek menjadi lebih mudah dan
sederhana. Selain itu juga setiap sifat dari setiap entitas dapat ditentukan sehingga setiap entitas
memiliki sifat (atau kondisi sifat) yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Fleksibel, Arsitektur SITS adalah fleksibel dalam arti dapat disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan
sekolah. Penambahan feature yang spesifik terhadap kebutuhan sekolah dapat dengan cepat dan mudah
dilakukan.
3. Sistem yang terintergrasi, semua modul SITS adalah modul yang sudah diintegrisasi sehingga dapat
menghindari double entry yang biasa sering terjadi pada komputerisasi manual.

II. Fasilitas dan Keunggulan
1. Multi Instalasi, SITS diciptakan dengan kumudahan penambahan modul baru.
2. Laporan yang fleksibel, bentuk laporan SITS dapat mudah disesuaikan dengan bentuk form sekolah.
3. Training bertingkat untuk pengguna SITS : Tingkat User/Operator (Siswa, Guru, Staf, Kepala Sekolah) dan
Supervisor. Masing-masing tingkat memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda dan hak akses sistem SITS
yang berbeda sehingga pelatihannya pun akan berbeda.
4. Aplikasi yang berbasis Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang memudahkan pengguna untuk lebih
memahami cara penggunaan SITS.
5. Biaya Implementasi yang terjangkau, biaya implementasi untuk SITS terjangkau untuk sekolah karena SITS
memang didesaign dengan standarisasi untuk kebutuhan sekolah secara generic.
6. User friendy dalam penggunaan dan simple, user atau operator yang tidak memiliki latar belakang
pengetahuan komputer (IT) dapat menjalankan aplikasi SITS.

D. MUDUL-MODUL SISTEM INFORMASI TERPADU SEKOLAH (SITS)
SITS menyediakan sistem pemrosesan data yang terpadu sehingga dapat membangun interkoneksi hasil masukan dari modul-modul yang ada sehingga mampu memberikan kemudahan penyajian informasi. Penyebaran atau penyampaian informasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan intranet maupun internet sehingga informasi dapat diakses oleh siapa saja yang berhak, dimana dan kapan saja selama ada sambungan internet. SITS merupakan sebuah software administrasi sekolah terintegrasi yang mencakup beberapa modul dasar yang dibutuhkan untuk membantu sebuah lembaga pendidikan dalam penyediaan informasi secara tepat dan akurat. SITS di desain untuk penggunaan Multiuser; sebagai software menejemen sekolah SITS dapat diakses oleh siswa, guru, karyawan, kepala sekolah hingga satpam dan petugas perpustakaan dengan hak akses yang berbeda-beda. SITS merupakan software manajemen sekolah yang mampu mencatat sejarah siswa (biodata, nilai, konseling, ekstrakurikuler, keuangan/SPP, pinjaman buku, presensi, dll) dari siswa masuk hingga lulus atau keluar dari sekolah tersebut.

Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS) mempunyai beberapa modul-modul utama seperti berikut :
1. Modul Absen (Bracode System)
2. Modul Kesiswaan
3. Modul Kurikulum
4. Modul BP/BK
5. Modul Keuangan (UDB dan DSP)
6. Modul Perpustakaan
7. Modul Kepegawaian
8. Modul Asset
9. Modul Raport/ Laporan

1. Modul Absen
Modul Absen adalah modul yang digunakan untuk melayani absensi Siswa, Guru, Staff, Modul absensi menggunakan teknologi Barcode. System yang mempunyai manfaat dan keuntungan sbb :
a. Absensi siswa, guru dan staf dilakukan secara otomatis (digital)
b. Sistem Absensi akan berhenti setelah waktu toleransi keterlambatan masuk sekolah yang ditentukan.
c. Hasil rekapitulasi absensi dapat dilihat secara cepat, tepat dan akurat).
d. Menghemat waktu bagi guru dalam mengolah absensi siswa.
e. Sistem Informasi Terpadu Sekolah secara otomatis dapat mengetahui siswa yang tidak masuk kelas, siswa
yang masuknya terlambat sehingga akan mempermudah dalam pengawasan.
f. Hasil rekapitulasi absensi dapat dikelompokan berdasrkan waktu (hari, minggu, bulanan, semester dan
tahunan) dan kelompok siswa (kelas, tahun ajaran, indek prestasi, dll)

2. Modul Kesiswaan
Modul kesiswaan adalah sebuah modul yang berfungsi untuk mengolah seluruh data siswa seperti :
a. Registrasi siswa baru berdasarkan Nomor Induk Siswa
b. Penyusunan daftar siswa per kelas / per jurusan
c. Rekapitulasi Jumlah Siswa (jumlah siswa aktif, jumlah siswa keluar, jumlah siswa masuk/baru)
d. Penyusunan data alumni secara otomatis
e. Pencarian data siswa secara cepat, tepat dan akurat (siswa dan siswi alumni)

3. Modul Kurikulum
Modul guru adalah sebuah modul yang berfungsi untuk mengolah data data siswa
yang bermanfaat dan penting bagi guru. Modul guru dibagi dalam 2 katagori, yaitu :
a. Modul Guru sebagai Wali Kelas
Modul ini berfungsi untuk :
- Mengolah data absensi siswa
- Mengetahui persetase kehadiran siswa
- Rekapitulasi absensi siswa (mingguan, bulanan, semester dan tahunan)
- Mengoreksi absensi siswa (yang salah secara manual)
- Melihat hasil nilai siswa (per mata pelajaran)

b. Modul Guru sebagai Guru Mata Pelajaran
Modul ini berfungsi untuk :
- Data Entry Nilai Ujian (praktek, tertulis) siswa
- Menganalisis hasil ujian siswa
- Membuat rekapitulasi nilai ujian siswa

4. Modul BP/ BK (Bidang Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling)
Modul ini berfungsi untuk mengolah data siswa yang perlu layanan khususi, seperti :
a. Jumlah alpa (tidak masuk tanpa berita) siswa yang melebihi batas minimum.
b. Jumlah siswa yang bermasalah
c. Data enty absensi siswa terlambat datang ke sekolah secara manual setelah siswa tersebut membuat
laporan (alasan) secara rinci dan jelas.
d. Membuat surat undangan untuk orang tua siswa ke sekolah untuk melakukan konsultasi (mencari jalan
keluar terbaik) tentang siswa yang sudah melakukan kesalahan. Misalnya siswa yang 3 hari berturut-turut
tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak jelas
e. Data Entry peringatan untuk siswa
f. Data Entry siswa berprestasi

5. Modul Administrasi
Modul ini berfungsi untuk melakukan kegiatan administrasi yang berhubungan
dengan kegiatan siswa, seperti :
a. Membuat Surat Panggilan untuk siswa dan orang tua siswa
b. Membuat Surat Pemberitahuan untuk siswa dan orang tua siswa
c. Dll

6. Modul Keuangan (Pembayaran UDB dan DSP)
Modul ini berfungsi untuk melakukan transaksi pembayaran UDB siswa dengan menggunakan teknologi Brocde System yang mengacu pada nomor induk siswa. Dan mengunakan teknologi ini adalah sbb :
a. Akses cepat, tepat dan akurat untuk mengetahui status terakhir pembayaran SPP siswa.
b. Mencetak slip pembayaran SPP siswa dengan cepat
c. Membuat rekapitulasi SPP siswa (harian, mingguan, bulanan, semester dan tahunan) secara otomatis.
d. Menghindari kesalahan dalam proses pembayaran UDB yang akan berakibat kerugian baik pihak sekolah
maupun di pihak siswa.

7. Modul Perpustakaan
Modul ini berfungsi untuk melakukan transaksi perpustakaan seperti :
a. Transaksi Peminjaman Buku
b. Transaksi Pengembalian Buku
c. Pencarian Buku
d. Stock Inventory Perpustakaan
e. Data Entry Buku Baru
f. Laporan Rekapitulasi (harian, mingguan, bulanan, semester dan tahunan)

8. Modul Kepegawaian
Modul ini berfungsi untuk memudahkan dalam pengelolaan seluruh data pegawai
sekolah, seperti :
a. Pencarian Pegawai, seleksi dan penempatan pegawai
b. Penyusunan Program Pelatihan
c. Perbaikan Kondisi Kerja
d. Perencanaan Pegawai
e. Perencanaan Organisasi
f. Penilain Prestasi, mutasi dan promosi
g. Penggolongan jabatan, administrasi penggajihan dan Insentif

9. Modul Manajemen Aset Sekolah
Modul ini berfungsi untuk memudahkan dalm pengolahan seluruh data asset sekolah,
seperti :
a. Pencarian data Asset
b. Penyusunan data Asset
c. Modul kategori Asset
d. Modul status
e. Modul Supplier/ Vendor
f. Nilai Asset (depresiasi)

10. Modul Raport / Laporan
Modul raport ini berfungsi untuk laporan. Module laporan ini dibagi atas beberapa jenis laporan, antara lain :

a. Laporan untuk Orang Tua Siswa/ Wali Murid (LKS)
Laporan Kegiatan Siswa (LKS) untuk orang tua siswa diberikan/ dikirimkan kepada orang tua via kurir (POS) antara tanggal 1 s.d 5 setiap bulannya LKS berisi beberapa informasi tentang kegiatan siswa selama sebualan terakhir, seperti:
- Kehadiran Siswa (persentase kehadiran)
- Nilai-nilai Uji Kompetensi (baik praktek maupun tulisan)
- Status Pembayaran DSP dan UDB
- Catatan Wali kelas/ Guru Bidang Studi
- Dll
Laporan kegiatan siswa yang dikirimkan ke orang tua siswa seperti Biling Kartu Kredit Bank via jasa kurir (POS) atau langsung (tergantung permintaan) setiap bulannya sehingga orang tua siswa atau wali murid dapat mengetahui kondisi sesungguhnya (real) tentang kegiatan siswa (anaknya) secara cepat. Tepat dan akurat sehingga apabila menemukan penyimpangan/ kesalahan dapat dilakukan koreksi / perbaikan dengan cepat dan tepat. Sehingga diharapkan dengan LKS ini orang tua dapat ikut berperan aktif untuk mengawasi, mengoreksi dan mengingkatkan mutu pendidikan anaknya.

b. Laporan Untuk Siswa
Laporan ini berisi beberapa informasi tentang kegiatan siswa dan informasi penting lainya yang harus diketahui oleh siswa, seperti :
- Status Kehadiran
- Nilai – nilai ulangan /Ujian
- Status Pembayaran SPP
- Jadwal kegiatan seperti extrakulikuler, praktek lab komputer, lab bahasa, kimia, dll.

Dan laporan ini dibuat dalam bentuk from laporan khusus siswa yang dapat di akses oleh siwa dengan sistem pengamam sbb :
Login : Nomor Induk Siswa
Password : ……… (rahasia dan min 6 karakter)
Sehingga informasi siswa hanya dapat di akses oleh siswa yang bersangkutan
(bersifat pribadi).

c. Laporan Untuk Guru
Laporan bulanan untuk guru ada 2 (dua) macam, yaitu :
- Laporan berbentuk digital (from dalam program SITS)
- Laporan tertulis (cetakan) dikirim dari tanggal 1 s.d 5 setiap bulanya Kedua laporan tersebut berisi
berapa laporan tentang :
- Rekapitulasi absensi siswa selama 1 bulan terakhir (wali kelas)
- Rekapitulasi nilai ujian / ulangan siswa selama 1 bulan terkhir (guru mata
pelajaran)

d. Laporan untuk Kepala Sekolah
Laporan bulana untuk kepala sekolah mencakup beberapa hal, seperti :
- Laporan keuangan (pembayaran UDB dan DSP)
- Rekapitulasi Bulanan Absensi Guru
- Rekapitulasi Jumlah Siswa
- Persentase Kehadiran Siswa
- Hasil analisis data siswa
- Dll (sesuai dengan kebutuhan)
E. KEBUTUHAN PERANGKAT KERAS, PERANGKAT LUNAK DAN LAINNYA

Sistem juga menerapkan prinsip client-server sehingga memungkinkan untuk perluasan sistem yang secara teoritis tidak terbatas, baik dalam ruang lingkup maupun jumlah data yang diolah. Sistem administrasi berbasis elektronik yang akan diterapkan tetap dapat bersinergi dengan sistem konvensional yang berbasis dokumen tertulis. Berbagai dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia yang berbeda-beda untuk tiap organisasi sekolah baik untuk kondisi saat ini maupun perkembangan oragnisasi di masa datang, juga menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam rancangan sistem. Dengan kata lain, implementasi sistem nantinya harus dapat memberikan manfaat yang optimal bagi organisasi walaupun dioperasikan pada infrastruktur dan kemampuan SDM yang minimum ataupun maksimum. Setelah melakukan perancangan perangkat lunak, maka
langkah yang dilakukan berikutnya adalah perancangan fisik yaitu dengan perancangan komponen dan penyebaran.
• Server
1. Perangkat Keras (Hardware)
- Min Pentium IV atau lebih (xeon)
o RAM min 512 Mb
o HDD SCSI 40 GB
o VGA Card 10/100 kbps
o Modem 56 kbps
o Keybord dan mouse
o FDD 1.44 MB
o CD Rom 52x
o Monitor

2. Software
- Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS)

• Client
1. Perangkat Keras (Hardware)
- Min Pentium IV
o RAM 128 Mb
o Min HDD SCST 20 GB
o Min VGA 16 Mb
o LAN Card 10/100 kbps
o Keyborad dan mouse
o FDD 1.44 MB
o Min CD ROM 48x
o Monitor 15”

2. Software
- Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS)
F. PENUTUP
Demikian makalah tentang perkembangan Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS) ini dibuat, agar kiranya dapat memberikan pertimbangan dan gambaran untuk efisiensi pekerjaan dalam manajemen Sekolah yang nantinya sekolah akan mempunyai sistem informasi manajemen sekolah yang terintegrasi dan terkelola dengan baik. Sehingga diharapkan akan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah tertentu, bahkan mutu pendidikan nasional pada umumnya.
PROSES PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI TERPADU SEKOLAH

Proses Penggunaan :
1. Siswa/Guru/Karyawan memasukan Kartu multi fungsi ke mesin absen dan akan muncul Nama, kelas, No. Induk dan Foto (untuk siswa) / Nama, NIP, Mata Pelajaran (untuk Guru)/Nama, NIP, pekerjaan (Untuk Karyawan).
2. Data akan masuk kepada server dan sepada semua clien.
3. Data hanya dapat dirubah oleh server/Kepala Sekolah
4. Clien Kesiswaan dapat memonitor dan dapat memasukan data Kesiswaan
5. Clien Kurikulum dapat memonitor dan dapat memasukan data kurikulum
6. Clien Kolektor UDB/DSP dapat memonitor dan dapat memasukan data keuangan melalui kartu multi fungsi siswa
7. Clien BP/BK dapat memonitor dan dapat memasukan data BP/BK
8. Clien Perpustakaan dapat memonitor dan dapat memasukan data Perpustakaan langsung dan data siswa dapat menggunakan kartu multi fungsi.
G. REFERENSI :

http://media.diknas.go.id/media/document/4430.pdf (disusun oleh : Suryadi)
http://edu-articles.com/lama/cetak.php?id=119
http://www.banjarnegarakab.go.id/menu.php?name=berita&file=article&sid=77
http://cs.6zag.net/skripsi/11100756/jurnal.pdf
http://santoy.wordpress.com/2008/03/26/sistem-informasi-perpustakaan-terpadu/

Sistem informasi dakwah dapat didefinisikan sebagai system informasi yang di susun dengan mempergunakanmempergunakan prosedur-prosedur yang formal, dengan tujuan memberikan informasi yang relevan kepada manajer baik itu informasi internal maupun informasi eksternal pada seluruh fungsi organisasi yang bersangkutan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif.
Sistem informasi yang formal makin dirasakan penting keberadaannya apabila operasi perusahaan bertambah besar dan bertambah rumit. Banyak para sarjana ahli manajemen mendefinisikan system informasi manajemen,missal Gordon B Davis, Joel E Ross, Donald W Kroeber, dan masih banyak lagi. Menurut definisi Donald W kroeber dalam bukunya yang berjudul manajemen information system mengatakan bahwa system informasi manajemen adalah sebuah organisasi, sejumlah proses yang menyediakan informasi kepada manajer sebagai dukungan dalam operasi dan pembuatan keputusan dalam suatu organisasi.
Menurut Gordon B. Davis mengatakan bahwa system informasi manajemen merupakan sebuah sistem mesin pemakai yang terintegrasi yang menyediakan informasi untuk menunjang operasi-operasi manajemen dan fungsi-fungsi pengambilan keputusan di dalam sebuah organisasi. Sistem tersebut memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, dan prosedur-prosedur manual, model-model untuk analisis, perencanaan, pengawasan, pengambilan keputusan dan suatu data base dilihat dari beberapa segi dua definisi tersebut:
• Ditekankan pada pada suatu sistem mesin
• Sebuah organisasi
• Pihak penyaji informasi
• Terdapat dalam suatu organisasi
• Titunjukan untuk sesuatu hal yaitu operasi sebuah perusahaaan, analisis dan pengambilan keputusan
• Dilibatkan computer, prosedur, suatu data base
Meskipun kenyataannya computer tidak lebih daripada alat untuk memproses data, banyak manajer memendang komputer sebagai elemen pusat suatu sistem informasi. Kecendrungan sikap ini terlalu tinggi dan memutarbalikan peranan komputer. Peran sebenarnya adalah menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan, perencanaan dan kontrol.
Kerangka dasar dari sistem-sistem manajemen merupakan suatu langkah memahami hubungan antara aktifitas-aktifitas manajemen dengan berbagai manfaat yang dapat diiperolehnya. Penting sekali memahami kedua macam sistem konseptual dan empiris, sebab dengan demikian kita mampu meletakan dasar dari klasifikasi sistem organisasi dan sistem informasi manajemen.

EVALUASI SISTEM INFORMASI MANAJMEN DAKWAH
Evaluasi adalah proses penilaian, pengukuran sejauh mana program yang telah direncanakan dapat terealisasikan dalam tiap pertemuan atau rencana serta program diukur dalam parameter keberhasilan dan kegagalan. Dengan menganalisa atau menilai melalui standar yang dibuat oleh lembaga atau organisasi dalam memberikan informasi dakwah yang disampaikannya.
Evaluasi adalah suatu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secaraa obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan sebelumnya. Evaluasi sebagai suatu fungsi manajemen berusaha untuk mempertanyakan efektifitas dan efensiensi pelaksanaan dari suatu rencana sekalipun mengukur seobyektif hasil-hasil pelaksanaan itu dengan ukuran-ukuran yang dapat diterima piahk-pihak yang mendukung suatu rencana.

Tahapan Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Dakwah:
1. Evaluasi terprogram yaitu evaluasi yang dilakukan ketika setiap ada kegiatan atau program yang dilaksanakan.
2. Evaluasi tahunan yaitu evaluasi yang dilakukan diakhir tahun tentang informasi atau data yang dikeluarkan oleh sistem informasi manajemen dakwah itu sendiri.

Secara ekplisit, pengertian evaluasi sering digunakan untuk menunjukan tahap-tahap didlam siklus pengelolaan, yang secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
a. Evaluasi pada tahap perencanaan, untuk menetukan segala prioritas terhadap berbagai alternatif dan kemungkinan terhadap cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.
b. Evaluasi pada tahap pelaksanaan, evaluasi ini adalah suatu kegiatan melakukan analisa untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan dibandingkan dengan rencana.
c. Evaluasi pada tahap pasca pelaksnaan, yang dinilai dan dianalisa adalah evaluasi hasil pelaksnaan kegiatan tersebut sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

LANGKAH-LANGKAH EVALUASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DAKWAH
1. menciptakan standar, missal standarisasi dalam informasi yang dikeluarkan
2. membandingkan kegiatan yang dilakukan dengan standar
3. melakukan tindakan koreksi, koreksi dalam setiap program baik terprogram ataupun tidak terprogram

Tujuan Evauasi:
a. Kemapuan teknis
b. Pelaksanaan operasional
c. Pendayagunaan system

ANALISA SYSTEM INFORMASI MANAJEMEN DAKWAH
1. mengamati perkembangan dakwah, dilingkungan masyarakat seberapa jauh peran serta sistem informasi manajemen dakwah memberikan konstribusi informasinya dalam memberikan gagasan maupun pemberitaan yang disampaikan.
2. Membuat peta dakwah, peran serta sistem informasi manajemen dakwah dalam menyampaikan pesan-pesannya sudah tersalurkan kebeberapa segmentasi masyarakat yang ada, baik keragaman yang ada dari segi budaya, sosial, politik, dan sebagainya.
3.
GLOSARIUM
1. sistem infommasi manajemen adalah sebuah organisasi, sejumlah proses yang menyediakan informasi kepada manajer sebagai dukungan dalam operasi dan pembuatan keputusan dalam suatu organisasi.
2. sistem merupakan bagian-bagian yang tersusun dan saling berhubungan untuk suatu tujuan bersama.
3. organisasi adalah sistem dari subsistem-subsistem atau bagian-bagiannya (divisi, departemen, fungsi, unit, dan lain-lain).
4. sistem konseptual adalah sistem dari keterangan atau klasifikasi (baru terkonsep tapi belum ada bahan-bahannya).
5. sistem empiris, adalah sistem yang tersusun dari sistem operasional nyata dari manusia, bahan, mesin, tenaga dan benda fisik lainnya dan seperti sistem-sistem lain yang tak dapat diraba juga masuk menjadi kelompoknya (bedasarkan dari pengalaman / sudah menyiapkan bahan-bahannya dan sudah tersedia).

Daftar Pustaka
1. Soedrajat Soegito. (2003) sistem informasi manajemen, penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta
2. Firman B. Aji, PDE Perencanaan dan Evaluasi, Bumi Aksara

0 komentar: