Jumat, 06 Mei 2011

0 WASPADAI IDEOLOGI NII MASUK KAMPUS


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

ISU gencar soal gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) merambah ke kampus ternyata bukan pepesan kosong. Berita hilangnya beberapa mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi belakangan ini makin menunjukkan kebenaran tentang eksistensi aktivis kelompok jaringan NII.
Di Malang, Jawa Timur, sedikitnya 11 mahasiswa dilaporkan menghilang secara mendadak. Di Yogyakarta, Polda DIY menangkap dua mahasiswa yang diduga sebagai perekrut kelompok NII. Mereka ditangkap karena disinyalir akan mencari mangsa di sekitar kampus. Bukan tak mungkin hal serupa terjadi di kampus lain di pelosok Nusantara ini, tetapi belum terungkap.
Fakta itu mengukuhkan kenyataan bahwa aktivitas dan jaringan NII masih eksis di negara ini. Selama ini, keberadaan NII dipertanyakan banyak kalangan mengingat pola dan motif gerakan yang mereka usung cenderung tersembunyi dan tertutup sehingga sulit mengidentifikasi aktivitas mereka. Namun bukan tak mungkin mendeteksi keberadaan komunitas mereka.
NII di Indonesia Keberadaan NII di Indonesia sudah dideteksi itu sejak lama. Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik sudah mengidentifiakasi. NII adalah gerakan inkostitusional. Karena itu pemerintah tak pernah mengakui gerakan itu. Bahkan juru bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moeloek menegaskan tak pernah mengakui apa pun bentuk gerakan, pertemuan, organisasi NII. Tentu NII pun tak pernah dibenarkan tumbuh berkembang (Monitor Indonesia, 14/4/2011).
Dia mengemukakan pengaruh gerakan NII terhadap keutuhan Indonesia tidak signifikan. Sebab, NII hanya bersifat parsial dan tak terstruktur dengan baik. Aktivis NII juga bukan dari kalangan terpelajar, sehingga tak memiliki kekuatan dan kekuasaan cukup berarti.
Namun fakta di lapangan cenderung berbicara lain. Justru negara gagal menanggulangi kemerebakan gerakan NII. Pemerintah, dalam hal ini intelelijen dan kepolisian, tak serius mengungkap kasus NII dan terorisme lain. Padahal, jika mau jujur, intelijen sudah mengantongi data keberadaan dan aktivitas kelompok tersebut, tetapi tetap kesulitan mengungkap. Maka, tak mengherankan jika muncul asumsi kasus itu dimainkan pemerintah untuk kepentingan politik penguasa.
Ironisnya, mengapa kampus seolah-olah jadi lahan paling efektif untuk merekrut calon anggota NII? Banyak bangunan rasionalitas untuk menjawab kegelisahan itu. Salah satunya karena kampus merupakan ruang bebas akademik, sehingga masyarakat kampus tak akan mungkin menutup rapat-rapat pintu akan kehadiran pemikiran baru. Terlepas apakah pemikiran itu cenderung bersifat liberal atau fundamental, semua dikembalikan pada pilihan nurani sivitas akademika bersangkutan.
Banyaknya mahasiswa yang hidup di perantauan dan jauh dari pantauan keluarga menjadi alasan strategis bagi kelompok itu untuk memilih menggarap mahasiswa menjadi bagian dari komunitas mereka. Faktor terakhir yang tak kalah memiriskan adalah keminiman pengetahuan mereka tentang agama Islam. Sebab, kebanyakan korban adalah para mahasiswa dengan pemahaman agama yang rendah, yang kemudian dengan gampang dibujuk untuk memperjuangkan negera Islam.
Untuk menangkal kemerebakan virus gerakan NII dan gerakan sejenis lain yang cenderung mengedepankan sikap eksklusivitas dan menyimpang butuh gerakan bersama dan lintas sektoral. Para ulama atau tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan akademisi di kampus, pemuda, dan lain-lain harus berperan aktif meluruskan paham yang salah itu. Semua harus turun gunung untuk membenahi. Jangan sampai paham salah itu menjalar liar ke mana-mana.
Mahasiswa dan Perguruan Tinggi Jauh lebih penting dari semua itu adalah sikap proaktif mahasiswa dan peran serta perguruan tinggi (PT). Dalam konteks ini, mahasiswa hendaklah menggunakan basis kekuatan intelektual dalam merespons pemikiran keagamaan serta tidak mudah terpengaruh bujuk rayu yang cenderung menjanjikan surga. Kampus juga memiliki tanggung jawab sosial tinggi untuk menyelamatkan mahasiswa dari gerakan yang merongrong negara kesatuan Republik Indonesia.
Perguruan Tinggi memang bukan lembaga yang memiliki otoritas untuk melarang  aliran-aliran yang menyimpang berkembang di Tanah Air. Namun kampus punya tanggung jawab moral untuk menyelamatkan mahasiswa dari gerakan-gerakan yang tidak diakui negara itu.
Banyak yang mengatakan bahwa yang muncul ke permukaan yang menjadi fenomena sekarang ini, dan berlanjut menjadi sebuah permasalahan pelik, merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan umat Islam di Indonesia. Seandainya, argumentasi ini benar, wajar bagi umat Islam untuk menjadikan pihak-pihak yang terkait dengan gerakan tersebut sebagai ancaman serius yang selalu harus diwaspadai.
Sebuah media menyebutkan ciri-ciri kelompok bawah tanah yang mengatasnamakan NII tersebut.
Berikut ini adalah sebagian ciri-cirinya:
1.      Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
2.      Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang Dinul Islam. Padahal, kebanyakan akal merekalah yang berbicara, dan bukan Dinul Islam yang mereka ungkapkan.
3.      Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih demi dakwah Islam. Tetapi semua itu, hanya sebagai alat (sarana) untuk menyedot uang.
4.      Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan, setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan, rata-rata, para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya, hingga sang calon mengatakan siap dibai’at.
5.      Ketika sang calon akan dibai’at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.
6.      Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.
7.      Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh (masih fatrah Makkah). Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah benar-benar menerapkan syari’at Islam.
8.      Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat.
9.      Shalat Jum’at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum’at.
10.  Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.
11.  Infaq yang dipaksakan per periode (per-bulan), sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.
12.  Adanya qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun anggota tak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari qiradh yang mereka janjikan tak kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Al Qur’an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi hasil itu menjadi hilang.
13.  Zakat yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syari’at yang sesungguhnya.
14.  Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan ‘infaq’. Padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan.
15.  Belum berlakunya syari’at Islam di kalangan mereka, sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman.
16.  Mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya.
17.  Manghalalkan mencuri/mengambil barang milik orang lain.
18.  Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, seperti menipu/berbohong, meskipun kepada orang tua sendiri.
Sebuah fenoma seperti puncak gunung es, yang sekarang ini terus berkembang di tengah-tengah masyarakat, dan mempunyai dampak luas dalam kehidupan umat Islam. Dengan stigma yang sangat menganggu, setiap peristiwa yang dikaitkan dengn NII akan selalu berdampak negatif.
Cobalah dipahami dan dipikirkan 18 ciri yang merupakan “methode” gerakan NII, yang akhir-akhir mendapatkan perhatian luas masyarakat. Semoga bermanfaat….jika ingin mendengarkan pembahasan mengenai NII bersama Ustadz  Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam  silahkan download Disini http://www.ziddu.com/download/14884642/N.i.iDalamTimbanganAqidah.mp3.html




0 komentar: